Terjepit Batu di Bumi "Laskar Pelangi"

Kompas.com - 03/07/2012, 19:06 WIB

KOMPAS.com – “Naik saja, tak usah takut,” ungkap Erling, pemandu wisata di Belitung. Ia berusaha menyakinkan rombongan untuk mencoba naik ke sebuah batu granit yang begitu besar, sebesar rumah.

Walau licin, batu granit itu memang tampak menggoda untuk dipanjat. Apalagi jika Anda penggemar film “Laskar Pelangi”, tentu kesempatan berada di puncak batu lalu menatap laut lepas Belitung, layaknya Ikal dan kawan-kawan, tak akan terlewatkan.

Ya, kawasan Pantai Tanjung Tinggi begitu terkenal di Indonesia, terutama sejak muncul di film “Laskar Pelangi” yang diangkat dari novel laris karangan Andrea Hirata. Pengelola setempat pun dengan apik memanfaatkan hal ini.

Di area masuk ke Pantai Tanjung Tinggi terdapat sebuah papan. Papan tersebut menginformasikan bahwa tempat tersebut merupakan lokasi shooting film “Laskar Pelangi”. Benar saja, beberapa turis domestik pun sibuk berfoto di papan tersebut.

Melangkah mulai masuk ke daerah berpasir, laut seakan tertutup oleh batu-batu granit. Setelah tersingkap, laut biru dengan gradasi hijau bagai zaitun, terhampar dan begitu memukau mata. Di tengah teriknya matahari Belitung, laut yang begitu jernih dan tampak dangkal itu begitu menggoda untuk dijajal.

Ya, langsung berlari dan berenang di antara bebatuan granit. Kelar berenang, naiklah ke atas batu-batu tersebut. Tak akan puas, Anda menjelajahi Tanjung Tinggi hanya satu atau dua jam. Perlu seharian untuk berkenalan dengan batu-batu sepanjang pantai tersebut.

Takjub melihat batu yang besar sudah pasti. Apalagi bentuknya yang kadang cekung seperti gua, lalu batu bertumpuk, sampai batu yang terdampar di tepi laut. Saking besarnya, ada yang ukurannya sampai ratusan meter kubik alias sebesar rumah.

Erling mengungkapkan ada berbagai versi yang menceritakan asal-usul batu-batu granit tersebut. Salah satunya adalah teori letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883. Saking dahsyatnya letusan tersebut, bebatuan pun terbang hingga ke Belitung. Sebagian menancap di Tanjung Tinggi.

Nah, salah satu batu menarik lainnya adalah batu terjepit. Erling menunjukan suatu sudut di antara bebatuan. Ada dua batu yang cocok jadi titik berfoto. Sepintas lalu, kedua batu ini tampil biasa saja, tak menarik di mata. Namun, Erling memiliki pendapat lain.

“Di antara batu itu ada celahnya. Coba masuk ke dalam celah itu, nanti saya foto dari luar,” tutur Erling.

Benar saja, saat masuk di antara celah yang sempit itu, sesaat tubuh seperti menghilang. Batu yang di depan berbentuk lempeng dan tinggi sekitar dua meter. Sementara batu kedua yang berada di belakangnya berupa batu granit besar seukuran rumah tipe 21.

Di antara kedua batu tersebut terdapat celah sempit dengan lebar kira-kira tak sampai setengah meter. Masuk ke dalam celah itu, serasa sedang bermain petak umpet.

“Coba keluarkan kepalanya, terus kakinya dikeluarkan di sisi satu lagi,” sahut Erling.

Foto yang dihasilkan pun tampak seperti orang yang terjepit di antara batu. Dengan satu kepala terjulur dari sisi kanan dan satu kaki terjulur keluar batu dari sisi kiri. Seru!

Akses dan Akomodasi

Pantai Tanjung Tinggi berada di Kecamatan Sijuk. Lokasinya sekitar 30 kilometer di utara Kota Tanjung Pandan, ibu kota Belitung. Perlu waktu sekitar setengah jam perjalanan darat menuju pantai ini. Dari Tanjung Pandan, Anda bisa mencapai pantai ini dengan mobil sewa atau ojek. Ongkos ojek sekitar Rp 25.000 sekali jalan.

Untuk penginapan, di Tanjung Tinggi ada satu hotel berbintang yaitu Hotel Lorin. Pilihan penginapan lainnya bisa pilih hotel-hotel di Tanjung Pandan. Sementara untuk makanan, mudah saja, cukup menikmati aneka hidangan laut di kawasan Pantai Tanjung Tinggi.

Ya, di seputaran Pantai Tanjung Tinggi, penduduk setempat membuka warung-warung ikan bakar. Pengunjung dapat menikmati kelapa muda segar dan ikan bakar. Pun, di beberapa rumah makan juga terdapat kamar mandi untuk berbilas bagi pengunjung yang berenang di pantai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau