Obesitas Lebih Mematikan Ketimbang Rokok

Kompas.com - 04/07/2012, 17:27 WIB

KOMPAS.com - Keberadaan penyakit obesitas atau penumpukan lemak tubuh yang berlebih tidak bisa lagi dianggap sepele. Bahkan beberapa riset saat ini menunjukkan, risiko kematian akibat obesitas lebih berbahaya dan telah menggeser posisi dari rokok, yang selama ini menjadi penyebab utama kematian.

Hal itu disampaikan, dr. Inge Permadhi, Ms. SpGK, dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) saat bincang-bincang terkait obesitas, Rabu, (4/2/2012), di Jakarta.

Inge mengungkapkan, pada tahun 1997 tingkat persentase overweight di Indonesia sekitar 17,5 persen dan obesitas 4,7 persen. Namun pada tahun 2010, overweight menurun, sementara obesitas meningkat menjadi 11,7 persen. Peningkatan ini terjadi karena mereka yang overweight (kegemukan) telah beralih menjadi obesitas.

"Dulu, rokok menjadi penyebab utama kematian, tapi karena saat ini gencar kampanye rokok, ada kecenderungan semakin menurun. Tapi obesitas justru malah naik dan mengalahkan rokok sebagai penyebab kematian," katanya.

Inge memaparkan, obesitas dan kelebihan  merupakan faktor risiko berbagai penyakit kronik, seperti diabetes tipe 2, jantung koroner dan pembuluh darah, hipertensi stroke dan berbagai jenis kanker. Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2010, angka kelebihan berat badan dan obesitas pada penduduk usia dewasa diatas usia 18 tahun tercatat sebanyak 21,7 persen.

Cara sehat turunkan berat badan

Inge mengatakan, untuk menurunkan berat badan akibat obesitas ada dua hal yang harus diperbaiki yakni diet dan aktivitas fisik. Diet yang baik menurutnya adalah dengan menurunkan berat badan 1,5 hingga 1 kg/minggu dengan mengurangi asupan 500-1000 kkal/hari dari kebiasaan makan sehari-hari.

"Diet yang penting adalah melihat jumlah yang dimakan. Jumlahnya harus lebih sedikit dari aktivitas," katanya.

Secara umum, ada dua jenis tipe diet yang yakni low calori diet dengan porsi makan 1000-1500 kkal/hari, dan very low calori diet untuk porsi makan di bawah 800 kkal/hari.

Namun, bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan secara cepat (very low calori diet), harus ada pengawasan ekstra ketat dari dokter setiap hari dan harus dilakukan di rumah sakit. Waktunya pun terbatas 4-6 minggu, setelah itu kembali lagi ke program low calori diet. Metode menurunkan berat badan dengan cepat biasanya hanya diperuntukan untuk mereka yang mengalami obesitas pada level yang sangat tinggi.

"Efeknya bisanya sakit kepala, kelelahan, dehidrasi, kulit kering, rambut rontok, dan gairah seks turun. Oleh karena itu, butuh pengawasan," katanya.

Untuk asupan makanan, Inge menyarankan, sebaiknya menghindari gorengan, dan menggantinya dengan makanan yang dikukus, dipanggang, rebus atau kuah.

Lebih lanjut, Inge menjelaskan, untuk orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, sebaiknya melakukan aktivitas fisik 3-5 kali dalam satu minggu dengan intenstas sedang (30-60 menit). Namun untuk mereka yang tidak terbiasa berolahraga, harus dilakukan secara bertahap.

"Lakukan latihan yang sifatnya aerobik dan low impact, seperti berenang santai, jalan kaki, treadmil," ujarnya.

Pada fase awal memulai latihan, sebisa mungkin hindari untuk melakukan latihan beban. Latihan beban bisa dilakukan apabila seseorang sudah terlebih dahulu menurunkan berat badannya sampai 10 persen.

Penggunaan obat-obatan, kata Inge, boleh digunakan tapi fungsinya hanya sebagai penunjang. Disarankan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum menggunakan obat-obatan, karena beberapa jenis obat biasanya memiliki efek samping. Misalnya, obat diuretik, dapat memicu dehidrasi dan gagal ginjal.

"Kesimpulannya, untuk mendapat tubuh indah, menggunakan modifikasi lifestyle dengan diet dan aktivitas fisik. Farmakoterapi hanya penunjang. Tapi di luar itu, yang terpenting adalah motivasi. Seorang akan berhasil apabila motivasinya kuat," tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau