BANGKALAN, KOMPAS
Direktur Investasi PT Jamsostek Elvyn G Masassya, di sela- sela peresmian Kantor Jamsostek Cabang Madura di Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (4/7), mengatakan, saham Bank Jatim sangat potensial. Hanya sesuai aturan investasi di tubuh Jamsostek, menyangkut penempatan dana investasi, pembelian saham tidak mungkin diwujudkan.
Menurut dia, BUMN yang mengelola dana pekerja di Indonesia ini bisa membeli saham perseroan yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) jika jumlah saham yang dilepas ke pasar di atas 20 persen.
”Saham yang dilepas ke pasar hanya 20 persen, dan 10 persen di antaranya untuk karyawan Bank Jatim. Jadi jumlahnya sangat jauh dari aturan yang berlaku di Jamsostek,” ujarnya.
Elvyn mengakui, saham Bank Jatim memiliki prospek yang bagus dengan harga Rp 430 per lembar saham. ”Dari segi harga dan prospek sangat menjanjikan, hanya Jamsostek terganjal aturan karena jumlahnya di bawah 20 persen,” katanya.
Dia mengungkapkan, dari Rp 119,6 triliun nilai investasi Jamsostek, hingga Juni sudah dihasilkan Rp 6,5 triliun. Investasi itu antara lain obligasi Rp 49 triliun, deposito Rp 38 triliun, saham Rp 23 triliun, reksa dana Rp 8 triliun, serta sisanya properti dan penyertaan modal Rp 480 miliar.
Menyangkut investasi saham, Jamsostek akan mengincar saham yang dinilai potensial. Memang pasar saham kurang bagus karena harga saham turun. Dari segi investasi justru potensial terutama untuk jangka panjang.
Pada kesempatan itu, Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, kepesertaan perusahaan ataupun tenaga kerja di Pulau Madura dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja relatif rendah karena belum ada perusahaan besar atau industri skala menengah ke atas yang beroperasi di pulau garam itu. Hingga saat ini, kepesertaan perusahaan di Madura baru 370 perusahaan dengan tenaga kerja 7.500 orang.
Ini jika dibandingkan dengan kepesertaan untuk Kanwil VI yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang mencapai 2.318 perusahaan dengan 212.459 tenaga kerja.
”Minimnya perusahaan dan industri di Madura, calon peserta yang digarap justru di sektor informal seperti industri kecil, nelayan, dan petani, termasuk perajin batik yang jumlahnya terus meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur menyatakan, permintaan atas saham perdana yang mereka tawarkan sudah berlebih. Permintaan saham mencapai 4,5 miliar lembar dari jumlah yang ditawarkan sebanyak 2,983 miliar lembar.
”Kami baru memasuki masa penawaran saham dan ternyata memang sudah banyak yang berminat,” kata Direktur Utama Bank Jatim Hadi Sukrianto, Selasa lalu.
Masa penawaran saham pada 3-6 Juli, sementara pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli.