Diet Jus Bisa Bikin Rambut Rontok

Kompas.com - 05/07/2012, 11:32 WIB

KOMPAS.com - Jika dikonsumsi sebagai bagian dari makanan pendukung yang sehat, jus buah dan sayur memang bisa membantu meningkatkan kesehatan kulit. Tak heran jika banyak selebriti dunia seperti Jennifer Aniston, Salma Hayek, Gwyneth Paltrow, dan Sarah Jessica Parker, juga memperbanyak konsumsi jus buah dan sayur untuk menjaga kecantikan mereka. Bahkan beberapa bulan lalu, Jennifer Aniston sempat menjadi "pemuja" jus sayuran yang terbuat dari campuran ketimun, bit, bayam, kangkung, bawang putih, jahe, wortel, dan seledri.

Di Amerika, konsumsi jus buah dan sayuran sudah menjadi bagian dari gaya hidup perempuan. Seperti dilansir The Daily Mail, setiap selesai berolahraga atau yoga, banyak perempuan Amerika meneguk jus sayur dan buah dalam jumlah yang banyak. Namun, sedikit menyimpang dari tujuan utamanya untuk  menjaga kesehatan kulit dan detoks, kini konsumsi jus buah hanya dilakukan untuk menurunkan berat badan. Para perempuan mengandalkan konsumsi jus buah dan sayuran semata (diet jus ekstrim) untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka selama sehari-hari, selama beberapa minggu.

Sebenarnya diet jus buah dan sayur ini sangat baik, karena Anda bisa mendapatkan vitamin, mineral, dan antioksidan dari sayur dan buah. Namun, yang harus diingat adalah diet jus buah dan sayur ini tidak bisa digunakan sebagai makanan utama dalam diet. "Jika Anda melakukannya untuk alasan menjaga kesehatan dan menempatkannya sebagai makanan pendukung, langkah Anda sudah tepat. Namun jika melakukan diet jus ekstrim, maka metabolisme tubuh akan kacau," tukas Natalie Jones, juru bicara British Dietetic Association.

Ketika melakukan diet jus, Anda pasti akan merasa lapar karena tidak mengonsumsi serat yang dibutuhkan untuk beraktivitas. Natalie menambahkan, hanya mengonsumsi jus saja tidak akan memberi manfaat tambahan dalam tubuh. Sebaliknya, malah membahayakan dan membuat tubuh lemas dan mudah lelah. Sakit perut juga merupakan efek samping umum dari konsumsi jus berlebihan.

Banyak orang beranggapan, jus sudah memenuhi kebutuhan serat harian mereka. Padahal ketika dijus, serat buah dan sayur ini akan hancur dan berkurang manfaatnya. "Sedikitnya kandungan serat dalam jus akan membuat Anda mengalami konstipasi (sembelit) dalam jangka panjang. Dan ini akan membuat kolesterol melonjak," ujarnya.

Konsumsi jus buah memang akan memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, hanya saja tidak sebanyak jika menyantap buah utuh. Dengan konsumsi jus, tubuh tidak akan menggunakan energi apapun untuk memecah makanan, sehingga kalori dan gula alami dalam jus akan menumpuk di tubuh.

Diet jus bisa merusak penampilan
Diet jus memang akan membantu menurunkan berat badan dengan cepat. Hanya saja tubuh akan kekurangan zat gizi lain seperti kalsium, protein, vitamin D, lemak esensial, dan lain-lain yang menimbulkan efek buruk pada penampilan Anda. Menurut trichologist (ahli perawatan rambut), Philip Kingsley, melakukan diet jus selama beberapa minggu akan membuat rambut Anda rontok selama dua sampai tiga bulan kemudian.

"Jika tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan, maka metabolisme akan menurun dan memengaruhi tingkat produksi rambut," jelasnya.

Selain masalah kerontokan rambut, ternyata diet jus ekstrim yang dilakukan dalam waktu lama akan membuat kulit menjadi kering. "Kulit menjadi kering karena tidak mendapatkan lemak esensial yang dibutuhkan. Dan lebih parahnya, bisa menimbulkan bercak eksim pada kulit karena fungsi kulit terganggu," kata dermatolog Dr Sam Bunting.

Ia menambahkan juga bahwa diet berkalori rendah seperti diet jus ini akan membuat insulin tubuh terganggu. Terganggunya siklus insulin ini akan mengubah struktur kolagen dan elastin dalam tubuh, membuatnya lebih kaku, dan terlihat lebih tua sebelum waktunya.

Buruknya, kerusakan kolagen ini tak hanya merusak kulit, tapi juga akan merusak gigi. Sebab, jus buah dan sayur memiliki kandungan asam yang tinggi dan dapat merusak enamel gigi seperti minuman bersoda. "Fruktosa adalah gula alami, namun dengan kondisi diet seperti ini maka gula tidak dipecah dalam tubuh, sehingga akan membuat gigi berlubang," beber drg Uchenna Okoye.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau