Kala Bahasa Ibu Dihargai di Negeri Orang....

Kompas.com - 05/07/2012, 22:52 WIB

KOMPAS.com - Tawa riang memenuhi isi ruang kelas yang hanya terdiri dari 3 mahasiswa dan 7 mahasiswi asal Jepang. Meski dengan terbata-bata melafalkan kalimat demi kalimat dalam bahasa Indonesia, sepuluh mahasiswa-mahasiswi itu tetap percaya diri, maju ke muka kelas dan memperkenalkan dirinya dalam rangka mengikuti Indonesian Class, di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. 

"Nama saya Ayane, Katagiri Ayane. Umur saya 20 tahun. Saya belajar bahasa Indonesia karena saya punya banyak teman di Indonesia. Pacar saya juga orang Indonesia. Saya suka nasi goreng dan soto ayam. Saya ingin, hubungan Indonesia dan Jepang bagus," ucap Ayane dengan tersipu-sipu, yang langsung disambut tawa riang teman-temannya, Kamis (5/7/2012).

Ayane pun duduk, berganti dengan rekannya yang lain. Selanjutnya, yang maju kemudian adalah Abe Tomoyuki atau akrab disapa Mayuko. Mahasiswi berusia 20 tahun ini berasal dari Oita.

"Saya belajar bahasa Indonesia karena punya banyak teman bangsa Indonesia. Saya ingin ke sana suatu saat nanti," ucap Mayuko.

Tawa pun kembali berderai usai Mayuko berkata demikian. Dan, memang, ini selalu terjadi tiap kali ada yang maju ke depan kelas untuk berbicara dengan bahasa "barunya" itu. Namun, tawa riang tersebut bukan terlihat untuk mengejek, melainkan justeru memberi semangat satu sama lain.

Sepintas, pelajaran di kelas bahasa Indonesia ini memang tampak santai. Tak terlihat serius dan tegang, bahkan ketika dikunjungi tamu-tamu Indonesia yang ingin melihatnya langsung bahasanya dipelajari di dalam ruang kelas yang jaraknya jauh dari Tanah Air.

Mahasiswa dari 85 negara

Selain bahasa Inggris dan Jepang, kemampuan berbicara bahasa asing di mata mahasiswa APU ibarat "ilmu" tambahan yang wajib dimiliki. Dengan tinjauan studi Asia Pasifik, para mahasiswa internasional yang belajar di kampus ini berasal dari 85 negara. Untuk itu, mengenal bahasa asing lain menjadi hal penting dilakoni sebagai kemampuan tambahan.

Namun, dari 85 negara asal mahasiswa internasional tersebut, hanya enam bahasa yang diberikan kelas khusus tersendiri untuk diikuti mahasiswa lain. Keenam bahasa itu adalah China, Korea, Thailand, Vietnam, Spanyol, dan Indonesia.

"Di sini reguler student harus berbahasa Inggris, dan harus bisa bahasa Jepang. Tapi, di sini mereka juga bisa belajar bahasa apa saja. Kami ingin mereka bergaul mendunia lewat bahasa, karena nantinya mereka juga akan terjun ke dunia yang global," ujar Dean of Admissions APU, Prof Kondo.

Namun, lanjut Kondo, daya dukung untuk mencapai tujuan itu harus dipersiapkan dengan maksimal. Untuk membuat mahasiswa tidak kesulitan mempelajari bahasa asing lain, mereka menyediakan fasilitas yang dinamai dengan Self Access Learning Center (SALC). Di tempat ini, setiap mahasiswa diarahkan untuk belajar secara mandiri mengenal bahasa lain selain Inggris dan Jepang dengan bantuan mahasiswa lainnya dari negara yang bersangkutan.

"Kami tidak bisa memberikan semua kebutuhan ke mahasiswa, karena kami ingin merek yang mencari, mereka yang mengejar sendiri ilmu pengetahuannya. Untuk itu, SALC mengkondisikan mereka mempraktikkan apa yang kami sebut dengan konsep active learning," ujar Kondo.

Dahlan Nariman, Vice-Dean of Admissions, Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC) mengatakan, bahwa setiap mahasiswa bisa meminta tolong mahasiswa lain menuntunnya mengenal bahasa ibu yang ingin diketahui. Ia cukup menulis 'butuh teman mengajar bahasa' di secarik kertas dan ditempelkan di papan pengumuman di ruangan SALC.

"Kalau mahasiswa A ingin belajar bahasa Vietnam, misalnya, dia bisa meminta tolong dengan menuliskan semacam permohonan bantuan untuk diajarkan. Siapa yang melihat pengumuman di secarik kertas itu, misalnya si B yang asal Vietnam, biasanya akan merespon permintaan itu dan menelpon si A," tutur Dahlan.

Tujuan akhir

Jun Seong Yeon (24), mahasiswa asal Korea Selatan, yang saat ini duduk di tahun ketiga di Asia Pacific Management jurusan Business Management, mengaku senang bisa fasih berbahasa Indonesia. Bukan hanya bahasa Indonesia, lanjut dia, Jun bahkan ingin memperdalam bahasa lainnya.

"Banyak bahasa bisa saya pelajari di sini. Saya senang bergaul dengan teman dari bangsa lain," kata Jun.

Narumi (20), mahasiswi asal Jepang, juga mengaku demikian. Selain terus memperdalam bahasa Inggris, ia juga mengaku mempelajari secara serius bahasa Vietnam dan Indonesia. 

"Tapi, saya paling bagus (suka) belajar bahasa Indonesia. Karena saya sangat suka Indonesia," kata Narumi.

Lepas dari soal kesukaan akan satu bahasa asing manapun, memiliki skil bahasa asing selain Inggris dan Jepang adalah satu nilai lebih di APU. Hal tersebut, jika menurut Prof Kondo, sesuai dengan tujuan akhir studi di kampus yang terletak di perbukitan Beppu itu, yaitu global network.

"Everyday is a learning process. Tidak akan ada yang sulit jika demikian prinsipnya. Maka, di saat mahasiswa lulus dari APU, mereka sudah memiliki jaringan global yang kami bina, salah satunya dari pergaulan melalui bahasa asing," kata Kondo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau