Siswa berprestasi

"Semoga Pemerintah Tepati Janji, Saya Bisa Kuliah di Oxford"

Kompas.com - 09/07/2012, 09:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Samuel Leonardo Putra, remaja berusia 18 tahun ini adalah siswa SMAN MH Thamrin Jakarta yang telah beberapa kali menjuarai Olimpiade Sains Nasional. Dua tahun terakhir, Samuel secara berturut-turut keluar sebagai juara di Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk bidang Kimia. Ia meraih medali perunggu pada perhelatan OSN 2010 yang digelar di Kota Medan. Tahun 2011, prestasinya jauh meningkat saat berhasil meraih medali emas di Manado dalam ajang yang sama.

"Saat OSN di Manado, saya terpilih sebagai absolute winner. Peraih emas terbaik dari lima peraih medali emas di ajang tersebut," kata Samuel saat ditemui Kompas.com, sesaat setelah acara pelepasan tim olimpiade internasional di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Kamis (5/7/2012).
 
Kini, Samuel tengah mempersiapkan diri untuk mewakili tim Indonesia bertarung dalam International Chemistry Olympiad (IChO) di Washington DC, Amerika Serikat, pada 21-30 Juli 2012 mendatang. Perasaan bangga tentu dirasakannya. Namun, di balik perasaan bangga, ia juga tengah menyimpan kegalauan. Bagaimana tidak, Samuel tercatat berhasil menembus ketatnya persaingan untuk masuk ke universitas papan atas di Inggris, Universitas Oxford. Ia ditema di Fakultas Teknik Kimia.

Selain lolos seleksi Oxford, Samuel juga ditawari beasiswa penuh di Fakultas MIPA Universitas Indonesia dan salah satu perguruan tinggi di Singapura. Dua tawaran menggiurkan itu akhirnya terpaksa ia tolak dengan pertimbangan dirinya lebih memilih Oxford untuk melanjutkan studi. Akan tetapi, kini langkahnya terancam terhenti, mengingat biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Untuk mengikuti program perkuliahan selama empat tahun, diperkirakan biaya yang diperlukan hampir mencapai Rp 2 miliar. Setiap tahunnya, biaya pendidikan Rp 250 juta dan biaya hidup Rp 150 juta.

"Selama empat tahun kuliah, saya harus membayar Rp 2 miliar. Itu estimasi biaya yang diberikan Universitas Oxford. Cukup berat," ungkapnya.

Sebenarnya Oxford memiliki program beasiswa unggulan yang meng-cover seluruh biaya tersebut. Akan tetapi, beasiswa itu hanya diberikan kepada tiga mahasiswa baru dari seluruh dunia. Samuel gagal saat mengikuti seleksinya.

Sekarang tak ada jalan lain bagi Samuel untuk dapat tetap mewujudkan mimpinya berkuliah di Oxford. Jika tak mampu menutupi biaya dengan kocek pribadi, maka jalan lainnya adalah berharap melalui beasiswa yang diberikan Pemerintah Indonesia. Hal inilah yang menjadi penyemangatnya untuk berusaha lebih keras dan optimistis dapat memboyong medali emas di Amerika nanti.

Samuel pun berharap dari janji yang kerap dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh beserta jajarannya yang akan menanggung seluruh biaya pendidikan pelajar berprestasi. Secara khusus, janji tersebut diperuntukkan kepada mereka yang berhasil menyabet medali di kejuaraan sains internasional.

Salah satu janji pemerintah adalah akan membiayai seluruh biaya (pendidikan dan biaya hidup) hingga jenjang S-3 di universitas mana pun di dunia. Bahkan, iming-iming serupa juga diberikan kepada para peraih medali perak dan perunggu. Meski jatahnya hanya sampai S-2. 

"Saya yakin menjadi juara di olimpiade ini (IChO). Saya berharap pemerintah dapat menepati janji," harap Samuel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau