Mencicipi Nikmat "Neraka Sembilan" di Beppu

Kompas.com - 09/07/2012, 13:11 WIB

KOMPAS.com - Ketenangan Kota Beppu, prefektur Oita, Jepang, memang patut diacungi jempol. Saking tenangnya, lelah menempuh perjalanan 12 jam Jakarta - Singapura- Fukuoka - Beppu bisa seketika langsung terobati, terutama ketika sejenak "menyelinap" dari tugas dinas kantor yang harus dihadapi selanjutnya. 

Betapa tidak merasa tenang berada di kota ini. Berdasarkan data pada Maret 2012 lalu, dari sebanyak 120.000 penduduk asli yang mendiaminya, 30.000 di antaranya adalah orang asing, terutama wisatawan yang datang dan pergi. Praktis, kota ini memang benar-benar kota wisata, terutama wisata pantai dan hot springs (air panas).

Karena kerap disebut sebagai Yukemuri atau kota beribu sumber air panas, wisata pertama wajib didatangi di kota ini adalah wisata air panas dengan 2.800 hot springs yang dimilikinya. Saking berlimpah sumber air panas, di beberapa wilayah berbukit dari kota pantai ini malah ada yang menyemprotkan tinggi-tinggi uap panasnya.

Mata pun tak henti berkedip dibuatnya. Di sepanjang jalan raya Beppu tampak mengepul uap panas di kiri atau kanan jalan sebagai pemandangan tersendiri yang unik di sini. Bahkan, ketika sampai di hotel pun seorang pegawai hotel mengatakan, bahwa ratusan hotel kawasan ini dijamin dilengkapi Onsen atau kolam tempat mandi bareng air panas alami.

Namun, sebelum menikmati mandi air panas alami di hotel, memilih ke sumber alaminya langsung tentu terasa lebih afdol. Perjalanan pertama bisa diarahkan ke sumber-sumber air panas yang disebut dengan "Neraka Sembilan".

Neraka Beppu

Kawasan "Neraka Pertama" perlu disambangi adalah Umi Jigoku atau "laut neraka". Dengan tiket 600 yen, kenikmatan mengelilingi Umi Jigoku adalah mencicipi kawasan wisata air panas dengan pemandangan hutan sejuk dan bersih dikelilingi danau-danau kecil. Salah satunya adalah kolam atau danau alami berwarna biru pirus beruap panas. Saking panasnya, pengelola sengaja meletakkan bambu panjang dan keranjangnya untuk wisatawan yang ingin merebus telur hingga matang.

"Neraka kedua" adalah Oniishibou atau "kepala gundul neraka". Di sini, lumpur bergelembung naik ke permukaan dan menyerupai mencukur kepala bhikkhu. Sementara "Neraka ketiga" adalah Shiraike Jigoku atau "kolam putih neraka". Kolam ini berisi air putih yang disebabkan oleh kalsium tinggi yang mendidih.

Sementara "Neraka keempat" adalah Yama Jigoku, artinya "Gunung neraka. Yama Jigoku terbentuk oleh lumpur yang memuntahkan keluar begitu banyak sehingga menciptakan sebuah gunung kecil yang dikelilingi oleh kolam kecil.

Tak kalah seru adalah "Neraka kelima" atau Kamada Jigoku. Bermakna "panci neraka", Kamada Jigoku adalah koleksi mata mendidih mata air panas yang diapit oleh patung "setan merah" yang muncul sebagai kokinya.

Sementara itu, "Neraka keenam" adalah Oniyama Jigoku atau "setan gunung neraka". Oniyama merupakan sebuah aliran sungai yang sangat kuat arusnya. Kawasan ini dipercaya sebagai "rumah" bagi sekitar 100 buaya neraka. Sedangkan "Neraka ketujuh" adalah Kinryu Jigoku atau "naga emas neraka" yang mengepul uapnya.

Adapun "Neraka kedelapan" adalah Chinoike Jigoku atau "darah kolam neraka". Chinoike mendapatkan namanya dari air berwarna kemerahan terang yang disebabkan oleh besi mengandung mineral di dalam kolam ini. Kolam air panas ini juga tidak terlalu besar dan airnya beda sekali dengan Umi Jigoku, karena berkelir merah kecoklatan.

Sementara "Neraka kesembilan" adalah Tatsumaki Jigoku, yang berarti "moncong neraka". Tatsumaki adalah mata air panas yang keluar setiap 30 menit dengan suhu sekitar 105 derajat celsius. 

Mandi bersama

Lepas dari jalan-jalan, kini saatnya menikmati air panas alami di hotel atau disebut dengan Onsen. Hotel-hotel di kawasan Beppu memang kerap menyediakan Onsen bagi para tamunya. Di sini, air panas ditampung dalam kamar mandi terpisah antara tamu pria dan wanita. Asyiknya, masuk ke kolam harus tanpa busana! Masalahnya, Anda tidak akan boleh masuk ke Onsen pakai celana renang, karena harus benar-benar polos.

Itulah wisata alam sekaligus wisata budaya di Beppu, Jepang. Anda harus menghormatinya untuk bisa benar-benar menikmati wisata ini. Tata caranya, di kamar Onsen sudah tersedia Yukata (kimono). Anda juga akan disediakan dua handuk (besar dan kecil) di dalamnya.

Dikamar ganti Onsen, Yukata dan seluruh pakaian dalam harus dilepas dan handuk besarnya juga ditaruh. Pertama-tama, Anda harus mandi dulu, bersih-bersih memakai sabun, dan membasuh lagi pakai air dan mengeringkan dengan handuk kecil. Setelah itu, silahkan masuk ke dalam kolam Onsen.

Tidak usah malu. Semua yang masuk ke dalam Onsen akan melakukan hal sama. Walaupun boleh membawa handuk kecil, itu pun cukup untuk menutupi bagian yang paling vital saja. Apalagi untuk kaum wanita, handuk itu bahkan terbilang tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuh, kecuali bagian bawah saja.

Tertarik?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau