Pemalsuan ijazah

Saksi Empat Mahasiswa Beri Keterangan Berbeda

Kompas.com - 09/07/2012, 18:38 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung yang juga menjadi saksi kasus dugaan pemalsuan ijazah dan nilai diketahui memberikan keterangan yang berbeda-beda. Karena itu, tim penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang harus lebih bekerja keras dalam mengungkap kasus ini.

Empat mahasiswa yang diperiksa ini menggunakan jasa tersangka Dwi Hartono alias Ferry, mahasiswa FK Unissula angkatan 2004, untuk masuk ke FK dengan menggunakan ijazah dan nilai palsu pada 2010. Para mahasiswa ini akan kembali diperiksa untuk menggali informasi lebih detail.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Augustinus Berlianto Pangaribuan mengatakan, pihaknya membutuhkan tambahan waktu untuk mencari kebenaran karena kesaksian para mahasiswa itu berbeda satu dengan lainnya. Dijadwalkan pemeriksaan akan dilakukan Selasa (10/7/2012).

Selain empat mahasiswa tadi, penyidik juga menjadwalkan kedatangan dua anggota staf rektorat untuk bersaksi. "Awalnya sudah dipanggil, tapi keduanya tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Sementara dua anggota staf lainnya sudah memenuhi panggilan pemeriksaan," ujarnya, Senin (9/7/2012).

Sementara itu, Kanit Tipikor Satreskrim Polrestabes Semarang AKP Bejo Sutaryono menambahkan, berkas pemeriksaan terhadap tersangka Dwi Hartono alias Ferry telah dikirimkan ke Kejaksanaan Negeri Semarang, Senin (9/7/2012). Ini merupakan pengiriman berkas untuk kedua kali setelah tim Kejaksaan Negeri Semarang mengembalikan berkas pada Senin (18/6/2012) untuk dilengkapi.

"Pada berkas kali ini kami menambahakan nama dengan inisial R dalam daftar pencarian orang seperti pengakuan tersangka Ferry yang bekerja sama dengan R. Selain itu, juga penyitaan sejumlah barang bukti dari tangan tersangka Ferry," katanya.

Seperti diketahui, kasus ini muncul dari laporan Dekan FK Unissula Taufiqurrachman (57) yang melaporkan mahasiswanya dengan dugaan melakukan pemalsuan data dan nilai. Ferry sebagai pelaku mengaku sudah melakukan aksinya sejak 2006. Hal itu dilakukan melalui sebuah lembaga bimbingan belajar dengan tarif masuk Rp 50 juta hingga hampir Rp1 miliar.

Dia juga mengaku melakukan hal ini bersama sejumlah rekannya. Berdasarkan data pihak kepolisian, bimbingan belajar ini bisa memasukkan calon mahasiswa dengan ijazah palsu dan joki saat ujian masuk untuk berbagai jurusan di sejumlah universitas ternama di Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau