Libya

Tripoli Kembali Menggeliat Setelah Revolusi

Kompas.com - 10/07/2012, 01:49 WIB

Musthafa ABD Rahman

Hari Minggu dan Senin (9/7), kehidupan di ibu kota Libya, Tripoli, terlihat sangat normal. Kendaraan-kendaraan bermotor, yang didominasi buatan Jepang dan Korea, berseliweran di jalan-jalan utama. Tak terlihat lagi bekas-bekas revolusi hampir setahun lalu. 

Tripoli, yang sejatinya sebuah kota yang sangat tua, kini mengikuti irama gaya hidup modern penduduknya. Warga Tripoli dikenal menjalani kehidupan paling terbuka di Libya, dengan gaya hidup kelas menengah atas.

Pemandangan kaum muda Tripoli dengan hanya mengenakan celana pendek dan kacamata gelap sambil membawa mobil-mobil terbaru sering terlihat di jalan-jalan utama Tripoli atau di kafe-kafe yang tersebar di sekitar Alun-alun Syuhada. Rezeki dari pendapatan minyak yang berlimpah sangat memengaruhi gaya hidup warga Tripoli.

Kota Tripoli didirikan oleh bangsa Phoenicia pada abad ketujuh sebelum Masehi. Kemudian, Tripoli silih berganti berpindah kekuasaan, mulai dari Cyrenaica, Romawi, Ottoman, kolonial Italia, kolonial Inggris, Raja Idris, rezim Moammar Khadafy, hingga era demokrasi pascarevolusi Libya 2011, yang berhasil menumbangkan rezim Khadafy.

Kini, suasana romantisisme revolusi dan suhu panas politik saat pemilu tetap terasa. Namun, hal itu mulai tertelan ritme kesibukan sehari-hari warga ibu kota Libya, sesuai dengan profesinya masing-masing.

Lalu lintas di Jalan Omar Mukhtar, yang merupakan pusat perdagangan di Tripoli, terlihat sering macet. Bunyi klakson kendaraan yang lalu lalang memekakkan telinga pejalan kaki di sepanjang jalan yang sangat terkenal di Tripoli itu.

Toko-toko dan restoran-restoran memenuhi sepanjang Jalan Omar Mukhtar dan jalan-jalan di sekitarnya. Suara riuh rendah pedagang asongan di kawasan itu menarik perhatian pengguna jalan.

Seorang pedagang kaki lima bernama Ibrahim (32) mengaku sangat senang kehidupan kota Tripoli pulih lagi. Suasana itu akan berdampak positif pada aktivitas perdagangannya. Ibrahim menjual pernik-pernik kecil, seperti sikat gigi, sisir, alat potong kuku, dan kancing baju.

Ia mengungkapkan, rata-rata barang dagangannya dibanderol 1 dinar Libya (sekitar Rp 7.000). Alun-alun Syuhada yang menjadi muara Jalan Omar Mukhtar ikut berubah dan mulai lebih terasa bernuansa bisnis daripada nuansa revolusi.

Arena revolusi

Alun-alun yang terletak di jantung kota Tripoli itu selama ini menjadi arena pengungkapan aspirasi revolusi dalam berbagai bentuk, mulai dari perayaan, pemasangan spanduk slogan revolusi, hingga tempat orasi revolusi yang disampaikan aktivis Libya.

Nuansa revolusi sangat terasa di Alun-alun Syuhada saat Kompas tiba di sana, Agustus tahun lalu, hanya beberapa hari setelah jatuhnya Tripoli ke kelompok oposisi. Saat itu, ribuan selongsong peluru berserakan di sekitar alun-alun.

Waktu itu, di tengah alun- alun dibangun panggung yang menjadi tempat tokoh-tokoh oposisi menyampaikan orasi untuk membakar semangat massa melawan rezim Khadafy.

Di mana-mana terlihat pemuda membawa senjata. Sementara di luar kawasan Alun- alun Syuhada praktis tidak ada kehidupan. Tripoli saat itu cukup menakutkan.

Namun, sekarang panggung itu sudah tak ada lagi. Pemuda yang membawa senjata sudah jarang terlihat. Spanduk-spanduk bertuliskan yel-yel revolusi juga sudah lenyap.

Sebagai gantinya, alun-alun itu kini dipenuhi gambar dan poster kampanye kandidat anggota Majelis Nasional Umum atau parlemen Libya. Gambar-gambar kampanye itu tentu akan hilang juga setelah pemilu.

Pusat harapan

Lambat laun, Alun-alun Syuhada kembali ke fungsi aslinya, yakni sebagai pusat perdagangan dan tempat santai warga Tripoli di taman-taman hijau di sekitar alun-alun itu.

Kafe-kafe di sekitar tempat tersebut sudah sibuk melayani pengunjung. Cuaca panas di kota Tripoli saat ini, dengan suhu udara mencapai 38 derajat celsius setiap hari, membuat banyak warga Tripoli memadati kafe-kafe di sekitar alun-alun, untuk sekadar mereguk minuman dingin.

”Setiap hari pengunjung memadati kafe kami ini. Kafe ini buka mulai pukul 08.00 hingga 24.00. Sepanjang hari itu selalu penuh pengunjung,” ungkap Ihab (24), pelayan Kafe Al-Fajr di dekat Alun-alun Syuhada, kepada Kompas.

Ihab, yang tampak selalu sibuk melayani pengunjung, mengungkapkan, kafe tempat dia bekerja hanya menjual minuman dan makanan kecil.

Kota Tripoli senantiasa menjadi pusat harapan rakyat Libya, seperti Ibrahim yang pedagang kaki lima dan Ihab yang pelayan kafe itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau