Musthafa ABD Rahman
Hari Minggu dan Senin (9/7), kehidupan di ibu kota Libya, Tripoli, terlihat sangat normal. Kendaraan-kendaraan bermotor, yang didominasi buatan Jepang dan Korea, berseliweran di jalan-jalan utama. Tak terlihat lagi bekas-bekas revolusi hampir setahun lalu.
Tripoli, yang sejatinya sebuah kota yang sangat tua, kini mengikuti irama gaya hidup modern penduduknya. Warga Tripoli dikenal menjalani kehidupan paling terbuka di Libya, dengan gaya hidup kelas menengah atas.
Pemandangan kaum muda Tripoli dengan hanya mengenakan celana pendek dan kacamata gelap sambil membawa mobil-mobil terbaru sering terlihat di jalan-jalan utama Tripoli atau di kafe-kafe yang tersebar di sekitar Alun-alun Syuhada. Rezeki dari pendapatan minyak yang berlimpah sangat memengaruhi gaya hidup warga Tripoli.
Kota Tripoli didirikan oleh bangsa Phoenicia pada abad ketujuh sebelum Masehi. Kemudian, Tripoli silih berganti berpindah kekuasaan, mulai dari Cyrenaica, Romawi, Ottoman, kolonial Italia, kolonial Inggris, Raja Idris, rezim Moammar Khadafy, hingga era demokrasi pascarevolusi Libya 2011, yang berhasil menumbangkan rezim Khadafy.
Kini, suasana romantisisme revolusi dan suhu panas politik saat pemilu tetap terasa. Namun, hal itu mulai tertelan ritme kesibukan sehari-hari warga ibu kota Libya, sesuai dengan profesinya masing-masing.
Lalu lintas di Jalan Omar Mukhtar, yang merupakan pusat perdagangan di Tripoli, terlihat sering macet. Bunyi klakson kendaraan yang lalu lalang memekakkan telinga pejalan kaki di sepanjang jalan yang sangat terkenal di Tripoli itu.
Toko-toko dan restoran-restoran memenuhi sepanjang Jalan Omar Mukhtar dan jalan-jalan di sekitarnya. Suara riuh rendah pedagang asongan di kawasan itu menarik perhatian pengguna jalan.
Seorang pedagang kaki lima bernama Ibrahim (32) mengaku sangat senang kehidupan kota Tripoli pulih lagi. Suasana itu akan berdampak positif pada aktivitas perdagangannya. Ibrahim menjual pernik-pernik kecil, seperti sikat gigi, sisir, alat potong kuku, dan kancing baju.
Ia mengungkapkan, rata-rata barang dagangannya dibanderol 1 dinar Libya (sekitar Rp 7.000). Alun-alun Syuhada yang menjadi muara Jalan Omar Mukhtar ikut berubah dan mulai lebih terasa bernuansa bisnis daripada nuansa revolusi.
Alun-alun yang terletak di jantung kota Tripoli itu selama ini menjadi arena pengungkapan aspirasi revolusi dalam berbagai bentuk, mulai dari perayaan, pemasangan spanduk slogan revolusi, hingga tempat orasi revolusi yang disampaikan aktivis Libya.
Nuansa revolusi sangat terasa di Alun-alun Syuhada saat Kompas tiba di sana, Agustus tahun lalu, hanya beberapa hari setelah jatuhnya Tripoli ke kelompok oposisi. Saat itu, ribuan selongsong peluru berserakan di sekitar alun-alun.
Waktu itu, di tengah alun- alun dibangun panggung yang menjadi tempat tokoh-tokoh oposisi menyampaikan orasi untuk membakar semangat massa melawan rezim Khadafy.
Di mana-mana terlihat pemuda membawa senjata. Sementara di luar kawasan Alun- alun Syuhada praktis tidak ada kehidupan. Tripoli saat itu cukup menakutkan.
Namun, sekarang panggung itu sudah tak ada lagi. Pemuda yang membawa senjata sudah jarang terlihat. Spanduk-spanduk bertuliskan yel-yel revolusi juga sudah lenyap.
Sebagai gantinya, alun-alun itu kini dipenuhi gambar dan poster kampanye kandidat anggota Majelis Nasional Umum atau parlemen Libya. Gambar-gambar kampanye itu tentu akan hilang juga setelah pemilu.
Lambat laun, Alun-alun Syuhada kembali ke fungsi aslinya, yakni sebagai pusat perdagangan dan tempat santai warga Tripoli di taman-taman hijau di sekitar alun-alun itu.
Kafe-kafe di sekitar tempat tersebut sudah sibuk melayani pengunjung. Cuaca panas di kota Tripoli saat ini, dengan suhu udara mencapai 38 derajat celsius setiap hari, membuat banyak warga Tripoli memadati kafe-kafe di sekitar alun-alun, untuk sekadar mereguk minuman dingin.
”Setiap hari pengunjung memadati kafe kami ini. Kafe ini buka mulai pukul 08.00 hingga 24.00. Sepanjang hari itu selalu penuh pengunjung,” ungkap Ihab (24), pelayan Kafe Al-Fajr di dekat Alun-alun Syuhada, kepada Kompas.
Ihab, yang tampak selalu sibuk melayani pengunjung, mengungkapkan, kafe tempat dia bekerja hanya menjual minuman dan makanan kecil.
Kota Tripoli senantiasa menjadi pusat harapan rakyat Libya, seperti Ibrahim yang pedagang kaki lima dan Ihab yang pelayan kafe itu.