Kenapa Memilih Faisal Basri?

Kompas.com - 11/07/2012, 00:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilihan DKI Jakarta 1 tinggal menunggu waktu. Ada enam pasangan kandidat yang akan bertarung untuk menjadi pemimpin Ibu Kota.

Dari semua kandidat itu, menurut pengamat politik dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto, terdapat dua pasangan yang digadang-gadang mampu membawa perubahan untuk Jakarta, yaitu Faisal Basri-Biem Benjamin dan Jokowi-Ahok.

Lalu mengapa Gun harus memilih Faisal-Biem? Menurutnya, terdapat beberapa kriteria yang melekat dalam diri Faisal dan dianggap mampu untuk membangun Jakarta.

"Kriteria untuk gubernur itu, pertama, sedari awal harusnya orang yang punya asketisisme politik. Dia menjadi gubernur bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara bersama-sama," ujar Gun di Jakarta, Selasa (10/7/2012).

Gun menambahkan, hal ini menjadi penting untuk kriteria pertama gubernur karena masalah utama kompleksitas persoalan di DKI dan juga di negara ini adalah korupsi politik atau kejahatan kerah putih yang biasanya dilakukan secara berjemaah dan membentuk imunitas kelompok untouchable.

"Faisal-Biem merupakan calon yang tidak terbebani partai politik dan cukong-cukong dalam pencalonannya, jadi sangat layak mendapat apresiasi sekaligus dukungan warga," tambah Gun.

Kedua, menurut Gun, masyarakat membutuhkan gubernur yang memiliki kemampuan prima. Tidak semata ngotot menjaga citra sekarang (current image), tetapi juga memiliki kapabilitas untuk menjadi pemecah masalah, bukan penambah keruwetan DKI Jakarta.

Faisal merupakan sosok yang visioner untuk mengelola Jakarta. Konsep-konsepnya konkret dan memiliki parameter yang bisa dioperasionalkan dengan konsisten. Alasan ketiga, Gun menilai Faisal memiliki kemampuan untuk menumbuhkan kembali semangat komunitarianisme yang humanis. Inilah simpul dasar nilai-nilai kemasyarakatan yang sudah lama tercabut dari warga Jakarta.

Pengusaha besar menjadi "predator" usaha kecil-menengah. Kelompok elite mengisap warga biasa. Tata kota menghamba pada kuasa uang, dan nilai etika tak lagi bermakna. Gun berharap, semoga pemimpin baru DKI memiliki jiwa transformatif, humanis, dan merekatkan kembali semangat komunitarianisme.

Tawaran konsep Faisal-Biem "berdaya bareng-bareng" adalah substansi semangat kekitaan sehingga wajar jika Faisal memang mendapatkan dukungan warga.

Gun menambahkan, sebenarnya ketiga kriteria tersebut juga ada pada sosok Jokowi. Akan tetapi satu hal yang mengurangi bobot Jokowi, yakni ada Prabowo di balik pencalonannya. Menurut Gun, Prabowo adalah pelanggar HAM pada peristiwa 1998 dalam kasus penculikan aktivis. Sementara itu, ia juga ingin mencalonkan diri sebagai Presiden tahun 2014.

"Tentu tidak ada makan siang yang gratis. No free lunch dalam politik, bukan? Meski sosok Jokowi juga punya potensi untuk lebih mandiri. Jadi, untuk besok saya punya sikap politik untuk memilih Faisal," ujar Gun.

Namun menurut Gun, jika Faisal ternyata tidak lolos, dan Jokowi masuk ke putaran kedua, maka akan sangat mungkin Jokowi menjadi pilihan karena akan menjadi yang baik di antara yang buruk.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau