Meroketnya Suara Jokowi Terbilang Mengejutkan

Kompas.com - 11/07/2012, 20:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil perhitungan cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengeluarkan nama Jokowi-Ahok sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang mendapatkan suara terbanyak dengan sampel 410 tempat pemungutan suara (TPS).

Munculnya Jokowi-Ahok di peringat teratas terbilang mengejutkan karena hasil survei selama ini mengunggulkan Foke-Nara.

"Saya jujur terkejut dengan hasil ini karena hasil survei selama ini kan Foke-Nara, tiba-tiba dalam jangka waktu singkat berubah ke Jokowi-Ahok," ungkap Direktur Eksekutif Komunikasi LSI, Burhanuddin Muhtadi, Rabu (11/7/2012), dalam jumpa pers di kantor LSI, Menteng, Jakarta Pusat.

Burhan mengatakan sejak awal, hasil survei LSI sebenarnya memang menunjukkan pertarungan antara dua pasangan calon itu. Namun, nama Jokowi-Ahok tiba-tiba saja menyodok ke peringkat teratas.

Sementara nama lainnya seperti Hidayat Nur Wahid (HNW)-Didik J Rachbini memang diprediksi di peringkat 3 berdasarkan hasil survei LSI.

"Beberapa mengatakan kalau kompetisi nanti akan melibatkan juga nama HNW dan Alex. Saya tidak percaya karena dari awal sudah keliatan ini pertarungan Jokowi dan Foke," ucap Burhan.

Tingkat dukungan Hidayat, lanjutnya, terbilang tidak terlalu kuat. Pasalnya, Hidayat tidak lagi disokong partai pemenang pemilu yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Dukungan PKS di tahun 2009 anjlok, kemudian Demokrat memimpin. Basis massanya tidak sekuat dulu lagi," tutur Burhan.

Jika dibandingkan tahun 2007 di mana PKS saat itu sedang kuat, pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar mampu menempel Foke-Prijanto meski hanya disokong satu partai.

Pada tahun 2007 lalu, pilihan kandidat juga hanya dua sehingga warga yang anti status quo mendukung Adang-Dani. Selain itu, faktor lainnya yang membuat HNW kalah yakni sosok figur.

"Jokowi didukung PDI-P, padahal itu bukan partai besar hanya 10-11 persen di Jakarta. Jadi suara Jokowi itu berasal dari figur Jokowi yang mampu mencuri konstituen partai," ucap Burhan.

Sementara sosok HNW dengan citra jujur dan bersih dari korupsi ternyata tidak mampu menarik perhatian masyarakat. "Ternyata bersih saja tidak cukup di Jakarta. Harus punya kompetensi untuk kelola Jakarta," papar Burhan.

Di sisi lain, Jokowi adalah sosok alternatif yang kredibel dan dianggap mampu melawan calon petahana. "Media punya kontribusi penting telah menjadikan Jokowi media darling sehingga bisa mengambil perhatian kelas menengah ke atas," imbuhnya.

Sementara sosok Alex yang memiliki integritas tinggi sebagai birokrat, diakui Burhan, tidak mampu mencuri hati warga. Pasanya, citra Alex terganggu dengan pemberitaan isu-isu negatif dalam kasus dugaan korupsi wisma atlet.

"Belum lagi dari dukungan Alex dari partai-partai yang kurang kuat. Saya kira ini menjelaskan suara-suara anti kemapanan larinya ke Jokowi," imbuh Burhan.

Sementara suara untuk Faisal Basri awalnya cukup kuat. Namun, tingkat dukungan Faisal kemudian menurun setelah nama Jokowi masuk bursa calon Gubernur.

"Captive market antara Faisal dan Jokowi sama, jadi dukungan Faisal lari ke Jokowi," pungkas Burhan.

Dari hasil hitung cepat LSI, nama Jokowi-Ahok berada di tempat teratas dengan perolehan suara mencapai 42,74 persen suara. Di bawahnya, menyusul Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan 33,57 persen. Sedangakan pasangan lainnya, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 11,96 persen, Faisal Basri-Biem Benyamin 4,94 persen, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,74 persen, dan Hendardji Soepandji-Riza Patria 2,05 persen.

Di dalam memproses perhitungan cepat itu, LSI menggunakan metode Stratified-Clustered Random Sampling dengan margin of error satu persen. Sampel yang diambil adalah 410 Tempat Perhitungan Suara (TPS) dari total 15.059 TPS yang ada di Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau