Memastikan Ibu dan Anak Sehat

Kompas.com - 12/07/2012, 07:10 WIB

The Partnership for Maternal, Newborn, and Child Health adalah aliansi lebih dari 450 anggota yang bertujuan memastikan semua ibu, bayi, dan anak di seluruh dunia tetap sehat dan mampu berkembang. Aliansi ini memiliki semboyan ”Building a Future for Women and Children”. Apa yang sebaiknya kita dukung?

Laporan The Partnership for Maternal, Newborn, and Child Health (PMNCH) tahun 2012 menyoroti hambatan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) ke-4 dan ke-5, yaitu mengurangi kematian ibu sebesar tiga perempat dan kematian anak balita sebesar dua pertiga pada tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 1990.

Data dari 75 negara, yang mencakup lebih dari 95 persen kematian ibu dan anak di seluruh dunia, telah dikumpulkan dan dianalisis. Kematian ibu telah turun 47 persen selama dua dekade terakhir. Dari 75 negara, 9 negara telah berada di jalur yang benar untuk mencapai target MDG. Akan tetapi, lebih dari 25 negara lain hanya membuat sedikit sekali kemajuan.

Kematian ibu dan anak memang sudah jauh lebih sedikit, tetapi masih banyak ibu dan anak yang menderita. Sejak tahun 1990, kematian ibu menurun hampir setengahnya, bahkan di Guinea-Ekuatorial, Nepal, dan Vietnam telah mencapai 75 persen.

Meski demikian, setiap dua menit, di suatu tempat di dunia, seorang ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan dan kemungkinan bayinya yang baru lahir untuk bertahan hidup sangat rendah. Selain itu, terdapat 20-30 macam masalah medis yang signifikan dan kadang-kadang bersifat kronis terkait dengan kehamilan ibu.

Saat ini, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga medis di seluruh Indonesia baru mencapai 57 persen. Setiap tahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 4,5 juta orang ibu melahirkan di seluruh Indonesia. Sekitar 15.000 orang ibu mengalami komplikasi yang menyebabkan kematian.

Akibat cakupan kasus kebidanan yang memiliki komplikasi dan ditangani baru 17 persen, angka kematian ibu masih 334 per 100.000 kelahiran hidup.

Penyelamat kehidupan

Suntikan steroid pada ibu sebelum persalinan prematur terbukti mampu membantu pengembangan paru janin yang belum matang dan mencegah masalah pernapasan bayi. Suntikan obat ini dapat menyelamatkan hampir 400.000 nyawa bayi per tahun di negara berpenghasilan rendah.

Namun, ternyata obat baru tersedia untuk 10 persen bayi prematur di negara berkembang, termasuk Indonesia. Perawatan bayi dengan metode kanguru, di mana bayi prematur dilekatkan kulit ke kulit di dada ibu agar tetap hangat, terbukti dapat menyelamatkan 450.000 nyawa bayi per tahun. Hal itu juga membuat pemberian air susu ibu bisa lebih sering dan mudah.

Meski demikian, lebih dari 10 persen bayi yang lahir prematur akan mengalami komplikasi karena persalinan. Hal itu merupakan penyebab utama kematian bayi baru lahir dan penyebab utama kedua kematian anak.

Pada tahun 2010, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon meluncurkan kampanye Strategi Global untuk Kesehatan Ibu dan Anak, yang telah menghasilkan dana 40 miliar dollar AS. Dana ini untuk mendukung berbagai kegiatan, meliputi pelatihan bidan dan petugas gizi, peningkatan akses terhadap pelayanan kontrasepsi, pencegahan penyakit menular, dan pendidikan masyarakat.

Pada tahun 2010, kematian anak global turun dari 12 juta jiwa tahun 1995 menjadi 7,6 juta jiwa pada 2010. Sekitar 40 persen kematian anak terjadi pada bulan pertama kehidupan. Sebagian besar kematian dapat dicegah melalui pemberian nutrisi yang baik serta perbaikan akses terhadap pelayanan kesehatan sebelum, selama, dan segera setelah kelahiran.

Imunisasi penting

Saat ini, dalam dua menit, hampir 30 anak meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau dapat diobati dengan mudah.

Asupan gizi yang tidak memadai menyumbang lebih dari sepertiga kematian anak, seperlima kematian ibu, dan gagal tumbuh (stunting) pada lebih dari satu dari tiga anak.

Pneumonia dan diare adalah penyebab kematian anak terbanyak di dunia, yaitu 29 persen kasus (lebih dari 2 juta anak). Diprediksi tahun 2015 lebih dari 2 juta kematian anak dapat dicegah jika cakupan imunisasi nasional di banyak negara untuk pneumonia dan diare dapat ditingkatkan 20 persen.

Di Indonesia, kematian akibat pneumonia pada bayi mencapai 23 persen dan pada anak balita masih 15 persen. Padahal, imunisasi untuk mencegah pneumonia (dan diare) belum termasuk dalam program imunisasi dasar nasional yang wajib diberikan untuk semua bayi.

Peningkatan cakupan imunisasi sampai 20 persen, seperti anjuran PMNCH, untuk menurunkan kematian anak akibat pneumonia dan diare di Indonesia tentu menjadi target yang tidak mudah tercapai dalam waktu dekat.

”Ketidakadilan sosial dapat menyebabkan ketidakadilan dalam pencapaian hasil di bidang kesehatan,” kata anggota PMNCH, Cesar Victora, dari Universitas Pelotas, Brasil.

Terlalu banyak ibu dan anak meninggal hanya karena mereka miskin, anggota kelompok etnis minoritas, kelompok pribumi, dan tinggal di pengungsian atau desa-desa terpencil. Karena itu, negara harus memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap upaya penyelamatan nyawa dan peningkatan derajat kesehatan, termasuk ibu dan anak.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?

Fx Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak di RS Bethesda, Yogyakarta

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau