Cara Indera Meningkatkan Gelora Seksual

Kompas.com - 12/07/2012, 18:17 WIB

KOMPAS.com - Dalam sesi bercinta, kerapkali orang hanya berfokus pada rangsangan ke organ-organ seksual pasangannya. Padahal, hubungan seks melibatkan banyak sekali indera pada tubuh kita. Anda tak hanya dapat mengandalkan indera penglihatan untuk menatap tubuh pasangan, tetapi juga keempat indera lainnya: penciuman, pendengaran, peraba, hingga pengecap. Kelima indera ini memainkan peran penting dalam mendorong gairah seksual dan dalam menikmati seks itu sendiri. Ketika Anda tak lagi menaruh perhatian pada indera-indera ini, saat itulah seks akan menjadi sekadar rutinitas yang membosankan, demikian menurut Sari Cooper, terapis seks di New York City.

"Agar benar-benar dapat mengalami seks sepenuhnya, Anda perlu membangunkan seluruh indera Anda," ujar Cooper. Ia pun berbagi tips untuk melatih kelima indera Anda.

Penglihatan
Dengan indera penglihatan, kita bisa mengagumi penampilan fisik pasangan. Tak hanya lengannya yang kokoh, tapi juga senyum dan tatapan matanya. Semua hal itu sebenarnya dapat meningkatkan kualitas hubungan seksual dengan cara yang berbeda.

"Kalau Anda berhubungan seks dengan seseorang yang Anda cintai, menatap matanya bisa menciptakan koneksi emosional yang lebih dalam karena secara visual Anda merekam segala sesuatu tentang dirinya, bukan hanya wajahnya," tutur Kristen P. Mark, PhD, konsultan statistik dan koordinator projek di Center for Sexual Health Promotion di Indiana University.

Namun, tentu saja Anda tak harus terus bertatapan mata saat berhubungan intim. Bercinta sambil menutup mata juga meningkatkan kenikmatan fisik, karena Anda bisa berfokus pada apa yang Anda rasakan.

Peraba
Anda ingat bagaimana Anda merasakan getaran ketika si dia menyentuh lengan atau paha bagian dalam Anda? Hal ini disebabkan kulit memang merupakan salah satu organ paling sensitif yang Anda miliki.

"Kulit menaungi tipe saraf yang berbeda-beda, yang memiliki bermacam fungsi seperti mendeteksi tekanan yang kuat atau lembut, suhu, atau rasa sakit," jelas Madeleine Castellanos, MD, terapis seks dari New York. "Ketika seseorang yang memesona menyentuh Anda, sel-sel saraf Anda memberi sinyal pada sensor otak yang mengenali sensasi dan gerakan, dan menangkapnya sebagai kenikmatan."

Tiga area pada tubuh yang dapat melepaskan hormon pemberi rasa senang, oksitosin, adalah perut, punggung, dan dada. Anda juga dapat menggunakan ujung jari untuk mengelus lengan, dahi, dan bagian atas paha si dia. Cara ini dapat menstimulasi serat-serat saraf yang tidak berselubung, yang memicu rasa nyaman. Libatkan juga rambut dan kuku Anda, karena kedua hal ini bisa menambahkan tekstur pada sentuhan.

Yang perlu Anda ingat, pria lebih suka sentuhan yang kuat karena kadar testosteronnya yang lebih tinggi. Beda dengan Anda yang lebih sensitif dengan sentuhan yang lebih ringan.

Pendengaran
Pasangan yang gemar mendengarkan musik dengan lirik yang membangkitkan gairah biasanya akan menganggap pasangannya lebih menarik, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Media Psychology. "Lagu-lagu yang kentara secara seksual juga akan menciptakan lingkungan yang mendorong suasana seksual," ujar Francesca Dillman Carpentier, PhD, profesor bidang jurnalistik dan komunikasi massa di  University of North Carolina, Chapel Hill.

Ketika Anda mendengarkan lagu-lagu tersebut bersama orang tercinta, lirik-liriknya akan membuat Anda berfokus pada atribut fisiknya. Dengan sendirinya, hal ini akan meningkatkan daya tariknya. Nah, bila tak ada musik yang mendukung suasana, Anda bisa melakukan sesi "dirty talk" bersama pasangan. Bagaimana mengawalinya? Katakan saja bagaimana Anda menyukai caranya menyentuh Anda, bagian mana dari dirinya yang ingin disentuh oleh Anda, atau ungkapkan saja fantasi-fantasi Anda.

Perasa
Hm... bagaimana indera perasa atau pengecap dapat memengaruhi performa seksual kita? Jangan bayangkan lidah hanya dapat mengecap rasa manis, asin, asam, atau pahit. Ketika Anda saling bercumbu, lidah Anda akan mengecap bibir dan liurnya, yang kemudian dapat meningkatkan intensitas rangsangan.

"Meskipun ini sekadar teori, dan baru sedikit penelitian dengan obyek soal mencium, salah satu buah pikiran yang terlontar adalah bahwa liur pada mulut pria mengandung sejumlah testosteron. Ketika liur berpindah ke mulut pasangannya, bisa meningkatkan hasrat seksnya," jelas Cooper. Untuk memberikan "rasa" yang berbeda ketika bercumbu, coba isap permen loli sebelumnya.

Penciuman
Setiap orang pasti memiliki aroma tubuh yang khas. Aroma tubuh alami ini biasanya akan terhirup ketika pria bangun pagi, atau baru berolahraga. Ketika Anda berdua dapat merasakan dan menikmati aroma tubuh masing-masing, tubuh Anda tanpa disadari akan merespons sistem kekebalan yang berbeda, yang menjadi komponen kunci dalam ketertarikan seksual. Bahkan, libido pria bisa langsung bangkit ketika menghirup aroma bagian kewanitaan Anda. Jadi, selama Anda telah mandi dengan bersih, tak perlu mengkhawatirkan aroma kewanitaan Anda akan bikin si dia ilfil.

Butuh aroma buatan? Menurut studi yang digelar oleh Smell & Taste Treatment and Research Foundation di Chicago, aroma lavender dan pai labu juga bisa meningkatkan hasrat pria maupun wanita, lho. Atau, pasang lilin beraroma untuk mengawali sesi bercinta untuk melepaskan aroma sensual di dalam kamar. Minyak beraroma yang digunakan untuk saling memijat juga layak dicoba.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau