Krisis Air Kian Parah

Kompas.com - 14/07/2012, 01:55 WIB

Magelang, Kompas - Krisis air di sejumlah daerah pada musim kemarau ini semakin parah. Kondisi itu tidak hanya mengganggu suplai air bersih, tetapi juga menghancurkan sejumlah tanaman pertanian. Pendapatan petani bakal kian anjlok akibat produktivitas pertanian yang rendah.

Air di sumur-sumur warga di wilayah Kecamatan Benjeng, Cerme, dan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menyusut dan mulai asin. Warga pun mengandalkan sejumlah telaga untuk kebutuhan mencuci, mandi, dan menyiram tanaman jagung di sawah. Sebagian warga memanfaatkan air telaga untuk kebutuhan memasak dan minum setelah diendapkan terlebih dahulu agar jernih.

Solihin (48), warga Kalipadang, Kecamatan Benjeng, Jumat (13/7), menuturkan, air telaga menyusut sejak 1,5 bulan lalu. Jika tak ada hujan, air telaga akan makin menyusut. ”Kami khawatir air makin sulit saat Ramadhan hingga Lebaran nanti,” ujarnya.

Debit air di Bendung Plered, Kabupaten Magelang, telah menyusut 76 persen, dari 1.790 liter per detik menjadi 425 liter per detik. Menurut petugas jaga Bendung Plered, Tri Budiono, penurunan debit terjadi karena suplai air dari bagian hulu, yaitu Kali Elo, semakin mengecil. ”Nyaris tidak lagi turun hujan sehingga suplai air dari Kali Progo terus menyusut,” ujarnya, Jumat.

Penyusutan air juga terjadi pada saluran irigasi di beberapa lokasi di Jember, Jawa Timur. Agar sawah kebagian air meski sedikit, juru air akan mengalirkannya secara bergilir ke sawah petani.

Rudi Hartono, juru air dari dinas pengairan setempat, mengatakan, debit air Kali Ajung turun drastis. Debit air sungai yang mengairi 772 hektar di dua kecamatan tinggal 100 liter per detik.

Puluhan hektar tanaman tembakau di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, layu. Daun mengering karena di usia baru 10 hari, tanaman ini kekurangan air. Petani terancam gagal panen. ”Pasokan air yang biasanya kami peroleh dari Waduk Notopuro tak lagi mengalir,” ujar Kadiran, petani tembakau di Ngale, Kecamatan Pilangkenceng.

Luas tanaman tembakau di Madiun mencapai 5.000 hektar. Petani mulai menanam tanaman pada Juni-Juli. Setiap hektar menghabiskan biaya Rp 10 juta.

(SIR/NIK/EGI/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau