Siapkah Kaltim Menghelat Sail Derawan 2013?

Kompas.com - 14/07/2012, 09:54 WIB

SAIL Derawan 2013 terus diperjuangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Ajang bagi penggemar wisata bahari, terutama bawah laut ini, bakal semakin mengenalkan Pulau Derawan dan sekitarnya ke dunia internasional. Namun, siapkah Kaltim dan Kabupaten Berau?

Tidak berlebihan apabila Pemprov Kaltim mengotot mendesakkan acara yang dihelat September tahun depan itu. Kepulauan Derawan di Kabupaten Berau, yang terdiri atas Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, dan Pulau Maratua, punya kekayaan bawah laut menakjubkan.

Di Indonesia, Kepulauan Derawan adalah ”surga” bagi para penggemar wisata bawah air, selain Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Bunaken (Sulawesi Utara), dan Raja Ampat (Papua Barat). Derawan dikelilingi terumbu karang indah dengan ikan-ikan yang berwarna-warni.

Di Kepulauan Derawan pula penyu-penyu hijau naik ke pasir pantai untuk bertelur, terutama saat musim bertelur pada JuliSeptember. Mengasyikkan kala malam hari melihat proses tersebut. Penyu-penyu sering menyinggahi pantai untuk mencari makan di padang lamun atau menikmati daun pisang yang diletakkan warga.

Pesona Kakaban, pulau karang yang tak berpenghuni, terletak di Danau Kakaban. Danau air payau yang jernih ini unik karena dihuni ubur-ubur yang tidak menyengat. Hanya ada dua tempat yang seperti ini, yakni Kakaban dan Pulau Palau, di Mikronesia.

Adapun Maratua memiliki 12 titik penyelaman. Lokasi yang tepat untuk melihat ikan pari, kerumunan barakuda, dan tentu saja penyu. Pulau Sangalaki adalah tempat konservasi penyu sekaligus pulau favorit bagi penyu.

Pemprov Kaltim sudah mengusulkan Sail Derawan pada tahun depan yang bertepatan dengan penyelenggaraan Sail Komodo. Namun, Bupati Berau Makmur optimistis, meski Sail Komodo muncul lebih dulu, penilaian tergantung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta sejumlah pihak dari pemerintah pusat.

”Jujur saja, di antara tempat lain, Derawan lebih layak. Dengan sumbangan kekayaan alamnya, masa Kaltim tidak diberi kesempatan,” ujar Makmur, pekan lalu.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, yang memperjuangkan Sail Derawan sejak empat tahun lalu, dalam beberapa kali kesempatan menegaskan keinginan tersebut. Sail Derawan akan berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat, mengenalkan Berau, juga Kaltim ke dunia internasional.

Harus bekerja keras

Namun, seberapa jauh kesiapan Derawan? Derawan masih harus bekerja keras untuk mengatasi banyak kendala. Masalah terentang mulai dari urusan transportasi, akomodasi, sampah, listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi, hingga pengelolaan wisata.

Sampah aneka macam terhampar di perairan Derawan, dan daratannya. Zulfikar, Camat Derawan, mengatakan, untuk mengurai masalah ini, tiap minggu ia memimpin acara bersih pantai. Pulau Kakaban juga tak luput dari sampah sehingga ”mereduksi” keindahan danau yang hanya berjarak puluhan meter. ”Sampah-sampah ini sebagian dari warga, sebagian dari wisatawan,” ucap Zulfikar.

Seperti kendala transportasi yang dihadapi daerah lain di Kaltim, Derawan juga demikian. Wisata ke Derawan adalah wisata yang cukup mahal. Berangkat dari Kota Balikpapan, misalnya, harus menyiapkan setidaknya Rp 2,5 juta per orang untuk berwisata 3 hari dua malam.

Dari Balikpapan, mesti menggunakan pesawat menuju Bandara Kalimarau, Berau, yang disambung dengan perjalanan darat sekitar 2-3 jam menuju Tanjung Batu. Setelah itu menggunakan speedboat menuju Derawan. Untuk melanjutkan perjalanan ke Sangalaki, Kakaban, maupun Maratua, menggunakan speedboat lagi.

Kendala listrik juga menerpa sehingga genset jadi tumpuan. Belum lagi soal telekomunikasi. Sinyal memang tersedia, tetapi hanya terlayani satu operator. Itu pun hanya sinyal untuk menelepon dan berkirim SMS. Berharap bisa berinternet? Anda akan kecewa.

Pengelolaan wisata juga belum siap. Belum ada petugas yang berjaga dan mengarahkan wisatawan. Karcis retribusi pun tak terlihat sehingga menguatkan kesan pengelolaan ”ala kadarnya”.

Namun, Derawan bukannya tak bersiap. Selain perluasan Bandara Kalimaru di Tanjung Redeb, Pulau Maratua segera memiliki bandara kecil yang bisa didarati pesawat baling-baling. Mereka punya pengalaman ketika Derawan menjadi tempat Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2008.

Sekarang, penginapan makin banyak. Di Pulau Derawan saja, saat ini terdapat tiga cottage dan 108 penginapan di rumah warga (homestay). Amin, penjual es kelapa muda yang juga pemilik penginapan Alfiani di Derawan, sudah bersiap. Ia baru saja membeli dua penyejuk ruangan.

Ia sudah berancang-ancang mematok harga Rp 250.000 per hari per kamar. Namun, daya listrik di rumahnya jelas tidak kuat. ”Itulah kendalanya,” jawab Amin sembari tertawa. (PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau