Kontingen Olimpiade Indonesia Gagal Naik Garuda

Kompas.com - 14/07/2012, 11:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah dihebohkan oleh berita membanggakan atas keikutsertaan Bambang Pamungkas sebagai pembawa api obor olimpiade di Inggris, Indonesia belakangan dikejutkan oleh batalnya maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia (GA) mengantarkan atlet Indonesia ke London. Kontingen Indonesia yang dikirim ke olimpiade di London terdiri dari 21 atlet dari tujuh cabang olahraga. Cabang itu adalah bulu tangkis, atletik, angkat besi, panahan, menembak, anggar, dan renang. Para atlet akhirnya bertolak ke London menggunakan Qatar Airline. 

Batalnya Garuda memboyong atlet Indonesia ke London terungkap dalam rapat antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ketika membahas persiapan keberangkatan kontingen. Awalnya, Kemenpora sangat berharap kontingen Indonesia bisa berangkat ke London menggunakan Garuda.

"Urusan teknis kemudian diserahkan kepada KOI," kata Deputi Bidang Pembinaan dan Peningkatan Prestasi Kemenpora Joko Pekik dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (14/7/2012). Hingga kini masih belum diketahui mengapa atlet Indonesia batal menggunakan Garuda. Pasalnya, hal itu memang tidak dibahas di dalam rapat.

"Jadi, waktu rapat dengan KOI tidak dibahas alasan kontingan RI tidak naik Garuda," ungkap Joko. 

Sementara itu, Ketua KOI Rita Subowo menyatakan, atlet Indonesia terpaksa memilih Qatar Air untuk menuju London karena tidak tercapai titik temu dengan pihak Garuda. Olimpiade London memang baru dihelat 27 Juli 2012.

Sejumlah atlet dari beberapa negara akan meramaikan pesta olahraga dunia di negeri Ratu Elizabeth tersebut hingga 12 Agustus 2012. Nama-nama seperti Taufik Hidayat, Simon Santoso, Adrianti Firdasari, Mohammad Ahsan dan Bona Septano, Greysia Polii dan Meiliana Jauhari, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, Jadi Setiadi, Eko Yuli Irawan, M Hasbi, Triyatno, Deni, Fernando Lumain, Triyaningsih, dan masih banyak lagi menjadi anggota KOI yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa. 

Olimpiade sejatinya, ujar Joko, adalah pesta olahraga dunia yang bisa dimanfaatkan Garuda Indonesia untuk turut mendunia, di samping akan terselip perasaan bangga bagi sejumlah atlet yang terbang bersamanya ke London. Karena itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng tetap berharap atlet Indonesia bisa terbang menggunakan Garuda ke London ketimbang menggunakan maskapai lain.

"Saya berharap kontingen kita bisa menggunakan Garuda Indonesia. Kalau berangkat dengan maskapai flag carrier, rasanya lebih mantap," katanya.

Namun, hal itu sepenuhnya akan diserahkan kepada pimpinan kontingen untuk memutuskan apa yang terbaik bagi kepentingan kontingen olimpiade Indonesia. Baginya, yang terpenting tim Indonesia bisa tiba dengan selamat dan tepat pada waktunya sehingga memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum bertanding.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau