Pesona Kota Tua Berlin

Kompas.com - 15/07/2012, 07:24 WIB

JIKA ke Berlin, Jerman, jangan lupa datang ke Checkpoint Charlie. Pijaklah kaki dan abadikanlah Tembok Berlin dan Gerbang Brandenburg. Kunjungi juga Berlin Cathedral, Deutsches Historisches Museum, Reichstag, dan gedung bersejarah lainnya. Bangunan berumur ratusan tahun ini terlalu indah untuk dilewatkan.

Ketika mengunjungi Berlin bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, beberapa waktu lalu, hampir tak ada yang berubah dibandingkan saat mengunjungi kota ini sembilan tahun lalu, 2003. Begitu menasuki wilayah barat Berlin, tampak bangunan dengan penampilan gedung tua menghiasi wajah kota berlambang beruang itu.

Suhu Berlin di musim dingin sangat ekstrem. Ketika pagi hari, suhu mencapai minus 4 derajat celsius. Namun, ketika siang hari suhu menunjukkan 5 derajat celsius. Sore hingga malam hari kembali ke minus 4 sampai minus 7 derajat Celsius.

Dinginnya udara dengan suhu ekstrem tak akan mengubah niat wisatawan untuk berkeliling menikmati keindahan kota.

Brandenburg

Pilihan pertama jatuh ke Gerbang Brandenburg atau dalam bahasa Jerman disebut Brandenburger Tor. Tempat ini adalah gerbang lama kota yang dibangun kembali akhir abad 18 sebagai lengkungan kemenangan neoklasik.

Posisinya terletak di sebelah barat pusat kota di persimpangan Unter den Linden dan Ebertstrabe, serta sebelah barat Platz Pariser. Saat ini tempat tersebut merupakan salah satu landmark Berlin secara khusus dan Jerman pada umumnya.

Gerbang ini sempat mengalami kerusakan hebat pada Perang Dunia II. Akan tetapi, oleh Monumen Yayasan Konservasi Monumen Berlin, gerbang ini direvitalisasi.

Jika sudah berada di tempat ini, jangan malu-malu berfoto dengan dua pria berseragam militer lengkap dengan bendera Jerman dan Amerika Serikat. Latar belakang pengambilan foto adalah gerbang tersebut.

Tak hanya menyaksikan dan mengabadikan gerbang tua, di kawasan ini juga terdapat bangunan tua, hotel, restoran, kantor, toko, dan kafe berbentuk bangunan tua yang kokoh.

Setelah puas berada di kawasan ini, berjalan kakilah satu blok ke arah utara. Di lokasi itu berdiri gedung Reichstag, gedung parlemen Kekaisaran Jerman.

Sebelum mencapai gedung parlemen, nikmati indahnya pohon linden yang berjejer sepanjang jalan tersebut.

Gedung Reichstag berdiri tahun 1894 sampai tahun 1933. Selanjutnya, gedung ini menjadi tempat parlemen Jerman mulai tahun 1999 sampai sekarang.

Checkpoint Charlie

Berkunjung ke Berlin tidak lengkap jika kaki tidak menginjak kawasan Checkpoint Charlie atau Checkpoint C. Tempat ini merupakan titik persimpangan di Tembok Berlin yang terletak di persimpangan Friedrichstrasse dengan Zimmerstrabe dan Mauerstrabe.

Tak hanya untuk mengabadikan foto, di lokasi yang sering tampil dalam film mata-mata dan buku ini terdapat museum mengenai sejarah Jerman dan Berlin. Di kawasan ini Anda bisa membeli cendera mata dengan harga miring sebagai oleh-oleh. Terdapat pula kafe untuk tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Tembok Berlin

Tak jauh dari tempat ini, sekitar 700 meter, terdapat Tembok Berlin. Tembok ini dibangun Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) pada 13 Agustus 1961. Tembok ini memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur serta daerah Jerman Timur lainnya sehingga membuat Berlin Barat sebagai enklave atau daerah kantong.

Deutsches Historisches

Setelah dari sana, coba juga mendatangi Deutsches Historisches Museum atau Museum Sejarah Jerman. Boleh juga bertandang ke Berlin Cathedral atau Berliner Dom.

Jangan dulu puas. Lanjutkan juga perjalanan ke arah timur Berlin. Bangunan di kawasan timur ini terlihat lebih modern dibandingkan bangunan di bagian barat Berlin.

Jika sudah berada di kawasan timur Berlin, datanglah ke Alexanderplatz, sebuah taman atau lapangan yang ramai dan berubin di tengah kota Berlin, dekat tepi sungai Spree dan Berliner Dom. Sesuai dengan namanya, taman ini diberi nama terkait kedatangan Alexander I yang mengunjungi Berlin pada tahun 1805.

Tak jauh dari taman ini, terdapat Gereja Nicolai, salah satu gereja tertua di Berlin yang selamat ketika menghadapi penngeboman pada Perang Dunia II.

Kota tua Jakarta

Setelah puas mengunjungi Berlin, teringat bagaimana dengan kondisi kota tua di Jakarta.

Kota tua seharusnya menjadi salah satu obyek wisata andalan Jakarta karena banyak bangunan bersejarah, seperti Taman Fatahillah dengan Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik.

Namun, kondisinya saat ini masih jauh dari kesan mengagumkan. Jakarta masih perlu belajar menata kota tua dari kota lain di dunia, salah satunya Berlin. (Pingkan Elita Dundu)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau