Mangga Dua Ambon Longsor, Aktivitas Warga Lumpuh

Kompas.com - 16/07/2012, 04:55 WIB

AMBON, KOMPAS.com — Hujan deras yang mengguyur Kota Ambon sejak Sabtu hingga Minggu mengakibatkan tanah longsor di Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe.

Longsor terjadi sejak pukul 19.25 WIT memutus akses jalan penghubung antardesa sekaligus melumpuhkan aktivitas warga sekitar.

Seorang warga Kelurahan Mangga Dua, Wim Limahelu, mengatakan pergeseran tanah akibat curah hujan yang tinggi mengakibatkan longsor pada ruas Jalan Mangga Dua.

"Kondisi tanah yang mulai bergerak perlahan pada pukul 19.25 WIT hingga mengalami longor pada pukul 19.45 WIT. Peristiwa ini membuat warga mengambil kebijakan untuk menutup ruas jalan agar tidak dilalui kendaraan, guna mengantisipasi terjadinya korban jiwa," katanya, Minggu (15/7/2012).

Menurutnya, longsoran telah terjadi sejak akhir Juni 2012 karena talud penahan tanah mengalami keretakan akibat terkikis air hujan.

"Kondisi ini sedikit membaik setelah Pemerintah Kota Ambon melakukan perbaikan jalan sementara agar akses jalan berfungsi, tetapi hujan deras yang mengguyur Ambon mengakibatkan terjadinya longsor," ujarnya.

Limahelu mengatakan, di kawasan itu terdapat sarana air bersih milik masyarakat. "Kami telah berkoordinasi dengan PDAM Ambon untuk tidak mengalirkan air ke warga karena pipa yang putus mengakibatkan air mengalir ke beberapa rumah sehingga harus diputus sementara sambil menunggu perbaikan," katanya.

R Talakua, Camat Nusaniwe, menyatakan di lokasi kejadian bahwa ruas jalan tersebut dalam proses perbaikan sejak beberapa hari lalu.

"Jalan tersebut sementara diperbaiki dan tidak dalam kondisi permanen karena terancam putus beberapa waktu lalu. Seluruh perbaikan seperti beronjong penahan juga terbawa tanah longsor sedalam lebih kurang 50 meter," katanya.

Peristiwa tersebut, lanjutnya, tidak menimbulkan korban jiwa dan harta benda, hanya satu rumah warga, yakni keluarga Edy Lesnusa, terkena longsoran talud.

"Tidak ada rumah warga yang rusak akibat longsoran. Hanya satu keluarga rumahnya terkena patahan talud, tetapi tidak ada kerusakan," tandas Talakua.

Antara melaporkan, Minggu, ruas jalan penghubung beberapa desa di kecamatan itu, seperti Desa Urimessing, Mahia, dan Tuni, tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Warga yang tinggal dekat kawasan tersebut juga harus mengungsi ke tempat yang aman mengantisipasi terjadinya bencana susulan.

Kondisi jalan tersebut mengakibatkan sebagian warga yang tinggal di Desa Urimessing tidak dapat melakukan aktivitas perekonomian karena jalan tersebut merupakan akses penghubung masyarakat.

Masyarakat, yang sebelumnya bisa melewati ruas jalan tersebut dengan kendaraan untuk menuju pusat kota, kini harus berganti kendaraan dua kali. Kendaraan roda dua dan empat juga harus diparkir di halaman rumah warga, sementara pemiliknya harus berganti kendaraan ojek motor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau