Selalu Merasa Cemas Bikin Orang Cepat Tua

Kompas.com - 16/07/2012, 10:28 WIB

KOMPAS.com - Rasa cemas adalah reaksi emosional yang wajar, seperti halnya sedih atau gembira. Tetapi jangan biarkan kecemasan menguasai hidup Anda. Selain bisa mengurangi kebahagiaan, cemas berlebihan juga akan membuat penuaan lebih cepat datang.

Hal tersebut dibuktikan secara ilmiah. Mereka melakukan analisa sampel darah yang diambil dari 5.243 perawat berusia paruh baya. Mereka menemukan bahwa wanita yang memiliki "kecemasan fobia" pada level tertinggi, secara signifikan memiliki telomere lebih pendek.

Telomere adalah sekuens DNA yang terdapat pada ujung kromosom yang menjaga DNA dari penguraian. Memendek atau rusaknya telemore dibatasi dari seberapa banyak sel bisa membelah. Telomeres yang lebih pendek dianggap sebagai tanda penuaan dipercepat.

Dalam kajiannya, para peneliti di Boston Brigham and Women Hospital menemukan, tingginya level "kecemasan fobia" - keadaan di mana seseorang takut akan ruang tertutup, ketinggian, dan keramaian - secara bermakna dikaitkan dengan telomere yang lebih pendek.

"Banyak orang bertanya-tanya tentang apa dan bagaimana stres dapat membuat kita lebih cepat tua," kata peneliti studi, Olivia Okereke.

Hasil penelitian yang sedang berkembang saat ini menunjukkan bahwa tekanan mental dan gangguan suasana hati (mood) dapat menempatkan orang-orang menuju ke arah penuaan dini. "Jadi, penelitian ini menunjukkan hubungan antara bentuk umum dari stres psikologis - kecemasan fobia - dan mekanisme yang masuk akal untuk penuaan dini," kata Okereke.

Dalam risetnya, peneliti mengukur gejala fobia dengan menggunakan kuesioner yang disebut Crown-Crisp index of phobic anxiety. Pertanyaan kuesioner tersebut mencakup: Apakah Anda memiliki ketakutan yang tidak masuk akal di ruang tertutup seperti toko, lift, dll, tidak pernah, kadang-kadang atau sering? Apakah Anda takut ketinggian? Apakah Anda merasa panik di keramaian? Apakah Anda khawatir mendapat beberapa penyakit yang tak tersembuhkan?

Sebelumnya, peneliti sudah melakukan pemeriksaan terkait tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penyakit kardiovaskular dan kondisi medis lainnya. Perlu diingat bahwa penelitian ini tidak membuktikan sebab-akibat, melainkan hanya sebuah asosiasi.

Perempuan yang masuk dalam kategori fobia tertinggi umumnya kurang sehat ketimbang yang tingkat fobianya rendah. Bahkan mereka juga lebih mungkin untuk merokok, memiliki indeks massa tubuh lebih tinggi dan kurang aktif secara fisik.

Para perawat yang terlibat dalam riset ini berasal ras kulit putih dan Eropa, sehingga asosiasi ini mungkin tidak berlaku untuk wanita dari etnis lain atau laki-laki. "Namun demikian, hubungan biologis dasar antara kecemasan dan panjang telomer kemungkinan besar dimiliki oleh semua manusia," kata peneliti.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau