JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei pasca-Pilkada DKI Jakarta, Rabu (11/7/2012) lalu, mengejutkan banyak pihak.
Litbang Kompas merilis Jokowi-Ahok mendulang suara 42,59 persen mengungguli Foke-Nara yang hanya memperoleh 34,32 persen berada diposisi kedua.
Meski rilis resmi KPUD belum disiarkan, budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menilai selain masalah figur calon, anjlok atau tidaknya suara kandidat lebih ditentukan oleh mesin politik yang mereka bangun.
Menurutnya, calon tak mungkin bekerja sendirian. "Itu kembali ke soal mesin politik. Partai Demokrat anjlok di mata rakyat. Hancurnya Foke di mata rakyat karena citra Demokrat yang sudah hancur," kata Ridwan Saidi kepada Kompas.com, Jakarta, Senin (16/7/2012).
Ridwan mengatakan, Foke tak cukup punya waktu untuk minimal membenahi citra Demokrat. Terlebih posisi Foke di partai incumbent itu tidak strategis. Mengingat pada tahun 2012 pemberitaan terkait skandal korupsi terhadap Partai Demokrat cenderung negatif.
"Foke untuk memperbaiki demokrat waktunya enggak cukup. Ibarat perahu sudah bocor. Apa pun sudah selesai. Anjloknya Foke, awal dari hancurnya rezim SBY," tutur Ridwan.
Sementara Jokowi, menurut Ridwan, sosok yang diharapkan rakyat bisa membawa perubahan dan pembaruan. Tim sukses pemenangan Jokowi-Ahok juga dinilai bekerja lebih tekun dan profesional.
Sebab, tanpa mesin politik yang baik mustahil Jokowi bisa populer dan menang di pilkada putaran awal.
"Kalau keinginan rakyat adalah perubahan, ya dia maunya perubahan. Rakyat maunya begitu. Kini tinggal bagaimana Jokowi memenuhi harapan rakyat. Rakyat mengharapkan sesuatu yang baru. Harapan akan perubahan untuk mengemban misi kebaruan," tutur Ridwan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang