Inventor muda indonesia

Alat Pengurai Asap Rokok Itu Dibuat dengan Modal Rp 200.000

Kompas.com - 17/07/2012, 13:30 WIB

SEMARANG,  KOMPAS.com – Siapa pun generasi muda yang inovatif dan kreatif layak mendapatkan dukungan dan apresiasi. Demikian pula layaknya Zihramna Afdi dan Hermawan Maulana, dua siswa SMA Negeri 3 Semarang yang belum lama ini meraih emas dalam International Exhibition for Young Inventors (IEIY) 2012 di Bangkok, Thailand. Prestasi mereka patut dibanggakan.

Alat yang mereka ciptakan adalah "T-Box" yang memiliki fungsi menguraikan asap rokok pada ruang merokok, sehingga T-Box dapat meminimalisasi polusi dengan cara menyaring CO2 serta memproduksi O2 bebas. Keduanya berharap, T-Box tidak hanya menjadi prototype, melainkan bisa diproduksi secara massal dan berguna.
 
Afdi mengatakan, T-Box sangat bisa diaplikasikan di masyarakat umum. Sebab, jika diproduksi dalam jumlah banyak, harga yang ditawarkan juga cukup murah. Modal membuatnya pun terbilang kecil, hanya Rp 200.000.

“Saat kami membuat untuk dilombakan, hanya sekitar Rp 200.000 dengan pembuatan alatnya saja sekitar satu bulan. Kami kan masih SMA, kalau diproduksi massal oleh yang lebih ahli tentu tidak butuh waktu lama dan bisa lebih murah,”ujar Afdi.

Inovasi keduanya memiliki fungsi menguraikan asap rokok pada smoking room, sehingga dampak dari gas berbahaya dalam asap di ruangan tersebut dapat direduksi. Alat yang berbentuk dua kotak kecil ini memiliki sistem seperti air conditioner (AC). Jika AC mengubah udara ruang menjadi dingin, alat yang dibuat keduanya membuat asap rokok diurai menjadi oksigen sehingga ruangan, terutama di smoking room akan tetap segar.

“Dan ini juga berbeda dengan penyedot asap yang hanya menyedot asap rokok untuk dibuang keluar, kalau T-Box mengurai menjadi oksigen. Harapan kami, mereka yang biasa merokok sembarangan mau memanfaatkan smoking room karena udaranya tetap segar,” katanya.

Berdasarkan penelitiannya, banyak perokok yang tidak mau menggunakan smoking room karena udara di dalam ruangan tersebut pengap. Sehingga mereka cenderung merokok di sembarang tempat. Padahal, asap rokok diketahui sangat berbahaya baik bagi perokok aktif dan pasif.

“Kami sudah meneliti smoking room di bandara, stasiun dan sejumlah mal juga tidak efektif karena ruangan yang sempit dan pengap. Jadi mereka masih merokok di tempat-tempat umum. Dengan alat ini kami mengharapkan tidak ada lagi orang yang merokok sembarangan karena mereka akan memilih merokok di smoking room dengan udara didalamnya yang tetap segar,” tambah Hermawan.

Baik Afdi dan Hermawan pun  berharap ada perhatian dari pemerintah atau investor untuk melihat karya mereka yang memang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Kalau memang akan diproduksi massal, itu akan menjadi kebanggaan bagi kami dan juga sekolah,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Semarang, Hari Waluyo juga mengaku merasa bangga dengan prestasi yang telah ditorehkan oleh anak didiknya. Ia berharap, prestasi ini dapat menjadi penyemangat bagi segenap warga sekolah untuk terus mengembangkan diri dan berprestasi, terlebih jika prestasinya berguna bagi masyarakat luas.

“Selain itu ini juga salah satu upaya kami untuk memenuhi syarat sebagai satuan pendidikan RSBI, yaitu memiliki prestasi di tingkat internasional,”ujarnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau