Paduan suara

Koordinasi Buruk, Rombongan Uncen Telantar di AS

Kompas.com - 18/07/2012, 03:17 WIB

Jayapura, Kompas - Kurangnya koordinasi diduga menjadi penyebab telantarnya 49 mahasiswa Universitas Cenderawasih Papua, di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, akhir pekan lalu. Tim yang tergabung dalam Gema Chandra Cenderawasih itu berada di AS untuk mengikuti lomba paduan suara World Choir Games.

Hal itu diungkapkan Pembantu Rektor III Universitas Cenderawasih Papua Paulus Hommers dan anggota DPR Papua, Ruben Magai, saat dihubungi secara terpisah, Selasa (17/7), di Jayapura.

Sebagaimana dilansir Associated Press, rombongan itu saat ini kesulitan untuk kembali ke Indonesia karena kekurangan dana. Pihak penyelenggara telah berupaya membantu mereka dengan mengumpulkan sumbangan dan bantuan lainnya untuk membiayai perjalanan mereka ke San Francisco.

Paulus Hommers mengatakan belum menerima informasi soal itu. Namun, ia membenarkan bahwa tim paduan suara Uncen mengikuti ajang kompetisi dua tahunan di AS.

Sebelumnya, paduan suara itu pernah mengikuti kompetisi serupa di Austria dan China. Namun, Hommers mengatakan, terkait keikutsertaan mereka di ajang serupa di AS, ia sempat meminta diurungkan. Selain karena bantuan dana dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua belum dapat dipastikan, mereka pun diharapkan lebih fokus untuk mengikuti Pesparawi tingkat nasional di Ambon, Oktober mendatang. ”Namun, mereka tetap nekat berangkat ke Jakarta. Dana bantuan dari Pemprov Papua dikirimkan sehari menjelang mereka harus tampil. Saat mereka menghubungi saya, mereka mengatakan telah berada di bandara. Saya meminta agar dibatalkan saja, tetapi mereka tetap berangkat,” kata Hommers.

Anggota DPR Papua, Ruben Magai, mengatakan, selaku ketua panitia ia mengetahui keberangkatan kelompok paduan suara itu. Namun, ia menilai keberangkatan itu belum dikoordinasikan dengan pihak terkait lainnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah meminta bantuan kepada Pejabat Gubernur Papua untuk membantu tim itu. Namun, setelah itu ia tidak mengetahui lagi, termasuk berapa besar dana bantuan yang diserahkan.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah membantu mereka untuk dapat kembali ke Tanah Air. Bagaimanapun mereka berangkat atas nama Provinsi Papua dan Indonesia.(JOS/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau