Bentrokan Ormas adalah Pekerjaan Bodoh

Kompas.com - 18/07/2012, 21:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya aksi bentrok antar-ormas di Jakarta Barat sudah meresahkan warga, apalagi setelah puluhan anggota FBR melakukan penyerangan terhadap gardu Forkabi Pekojan pada Rabu (18/7/2012) dini hari. Peristiwa bentrokan ormas di Jalan Pejagalan Raya, Jakarta Barat itu pun dirasakan semakin berseteru saja.

Melihat hal tersebut, Camat Tambora Isnawa Adji berencana mempertemukan kedua ormas yang saling berseteru itu. "Ke depannya, saya dengan Muspika dan Polsek akan memanggil mereka supaya ikut menjaga kerukunan di lingkungan masing-masing. Kita juga sudah meminta, tapi yang berperan jangan level atas saja, karena di ranting bawah justru yang sering mengedepankan egonya," kata Isnawa, Rabu (18/7).

Lebih lanjut, Isnawa mengatakan, sebenarnya penyelesaian masalah dua ormas tersebut telah menemui angin segar, hanya saja anggota ormas sering salah dalam bertindak. "Pada saat HUT Bhayangkara kemarin, ormas ini terus dimonitor, khusus di Tambora ini sudah sering terjadi," imbuhnya, menyayangkan peristiwa bentrok kedua ormas pada Rabu dini hari.

"Ini kan pekerjaan bodoh, apalagi ini berefek akan memberikan citra yang tidak baik. Apalagi mau memasuki bulan suci Ramadhan," ujarnya, seraya berharap ormas lebih mengedepankan aktivitas yang bermanfaat dan bukan sebagai bentuk yang saling bercerai satu sama lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau