Olimpiade roma 1960

Ideologi dan Foil Listrik

Kompas.com - 18/07/2012, 21:21 WIB

KOMPAS.com - Sabtu, 13 Agustus 1960. David Sime, sprinter andalan Amerika Serikat di Olimpiade Roma, Italia, duduk seorang diri di kamar hotelnya di kawasan Manhattan, New York. Telepon kamar berdering. Sejurus kemudian, Sime sudah berada dalam pesawat menuju Washington DC. Sime mendapat tugas tambahan: membuat Igor Ter-Ovanesyan, atlet Uni Soviet, membelot.

Nun jauh di Moskwa, Komite Olahraga Nasional Republik Sosialis Uni Soviet mengajak Igor Ter-Ovanesyan dan kawan-kawan mengunjungi mau?soleum Lenin di Lapangan Merah. Dalam kesunyian, mereka berjalan perlahan mengelilingi jasad tokoh komunis itu. Patriotisme Lenin diharapkan bisa dirasakan secara mendalam jelang pesta olahraga dunia di Italia.

Seusai ritual, Igor, atlet lompat jauh Soviet, mengikuti pertemuan Komsomol, organisasi sayap pemuda Partai Komunis Uni Soviet. Dia mendengarkan ceramah, sekaligus mendapat tugas baru: menjalin persahabatan dan perlahan menularkan ideologi kepada atlet dari seluruh penjuru dunia.

Timur vs Barat

David Maraniss, jurnalis Washington Post, mengatakan, Olimpiade Roma tidak sekadar ajang olahraga. Pertarungan ideologi Timur vs Barat ada di sana.

Beberapa bulan sebelum upacara pembukaan di Stadion Olimpiade Roma, hubungan antara blok Uni Soviet dan AS memburuk, ditandai aksi walk-out PM Uni Soviet Nikita Kruschev dari pertemuan empat pihak negara adidaya dan pembatalan kunjungan Presiden AS Eisenhower ke Moskwa.

Kekhawatiran meningkatnya suhu politik membuat panitia penyelenggara mengirim nota diplomatik kepada kedua pemerintahan dan sekutu mereka agar tidak menggunakan Olimpiade 1960 sebagai ajang propaganda. ”Tak ada toleransi untuk propaganda, atau kami tak segan mengusir Anda.”

Elisabeth Adriana Alida Poerawinata, atlet anggar putri Indonesia yang berlaga di Olimpiade 1960, pun akhirnya tak merasakan adanya ketegangan apa pun sejak upacara pembukaan hingga olimpiade usai. "Kami tertawa. Kami berdansa. Tidak ada ketegangan apa pun saat pembukaan. Semua lancar," kata perempuan yang biasa dipanggil Zuus Undapp ini. Suasana ini merayap ke laga setiap cabang.

Bersama 36 anggota kontingen Indonesia, 22 di antaranya adalah atlet, dia menyaksikan berkibarnya Merah Putih di antara puluhan bendera negara peserta lain. Undapp bangga bisa mengenakan lambang negara, Garuda, di dadanya.

Foil listrik

Undapp adalah satu dari dua atlet anggar putri yang terpilih ke olimpiade itu. Satu lagi adalah Pau Sioe Gauw. Tak ada rasa grogi bertanding melawan atlet anggar dari negara-negara Eropa yang dikenal sebagai kekuatan anggar dunia. Yang membuatnya sedikit grogi hanyalah penggunaan listrik pada setiap alat yang digunakan, termasuk foil, atau pedang lentur yang digunakan.

”Takut nyetrum atau korsleting. Maklum, kami tak pernah menggunakan alat seperti itu,” kenangnya sambil tersenyum.

Undapp hanya empat kali bermain dan kalah pada babak pertama. Namun, pada laga terakhir melawan Marie Melchers (Belgia), Undapp berhasil menorehkan dua angka meski tak cukup meloloskan dirinya hingga ke babak selanjutnya. Baginya, pengalaman berlaga di olimpiade adalah pengalaman tak terlupakan. ”Saya beruntung bisa berlaga di olimpiade. Membela Indonesia,” katanya yang kini berusia 78 tahun. (MHD)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau