Demo Tolak Rotasi Guru Sebenarnya Salah Paham

Kompas.com - 19/07/2012, 00:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi demo yang dilakukan ratusan murid dan beberapa guru terhadap Ami Witaryati, Kepala SMPN 9, terjadi karena salah paham antara guru dan kepala SMPN 9 tersebut.

Penolakan itu terkait adanya rotasi atau mutasi terhadap 5 guru di sekolah itu.

Nasrudin, Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur, mengatakan, hal ini terjadi akibat kesalahpahaman antara guru dan kepala SMPN 9.

"Kasus ini saya lihat, kalau persoalannya, karena komunikasi yang tidak efektif sehingga terjadi kesalahpahaman. Ini sudah saya sampaikan kepada kepala sekolah, termasuk kepada guru-gurunya," ujar Nasrudin kepada wartawan, Rabu (18/7/2012).

Menurutnya, rotasi yang dilakukan kepada lima guru tersebut sudah sesuai prosedur. Hal itu sesuai ketentuan Surat Keputusan Bersama Lima Menteri tentang Tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil bahwa guru PNS wajib mengajar di depan kelas minimal 24 jam dalam sepekan.

Dengan demikian, sambungnya, rotasi itu bertujuan untuk memindahkan guru ke sekolah yang kekurangan guru, dari sekolah yang kelebihan guru. Hanya, penyampaian kepada guru-guru yang bersangkutan kurang efektif sehingga memunculkan kesalahpahaman.

Dengan kejadian ini, pihaknya sudah memanggil kepala sekolah untuk menjelaskan kronologi kejadian. Jika terdapat kesalahan, maka pihaknya akan menindak, tetapi untuk saat ini masih akan dipelajari lebih lanjut.

"Bagaimanapun, secara aturan, tentu akan kami tindak. Apa tindakannya, sesuai dengan peraturan, siapa yang salah, ya kita lihat nanti, kalau memang ada yang salah," ujarnya.

Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, ratusan murid dan beberapa guru di SMPN 9, yang berlokasi di Jalan Usman, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, pada Selasa (17/7/2012), berdemo di dalam halaman sekolah menolak mutasi terhadap 5 guru.

Aksi yang dilakukan itu menolak pemindahan lima guru ke sekolah lain. Adapun kelima guru yang dimutasikan adalah Misneti (guru Seni Budaya), Harder Sinaga (guru Matematika), Junawan (guru Matematika), Sri Lestari (guru IPS), dan Musyiana (guru Bahasa Indonesia).

Aksi yang berlangsung sejak pukul 07.00 pagi tersebut sempat membuat kegiatan belajar-mengajar terhenti. Murid baru masuk kembali ke dalam kelas sekitar pukul 10.20.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau