Sisi lain dunia pendidikan

Sekolah Darurat Kartini Terancam Digusur

Kompas.com - 19/07/2012, 15:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masih ingat Sekolah Darurat Kartini yang didirikan oleh dua ibu kembar Rossa-Rossy? Beberapa tahun lalu, sekolah yang mereka dirikan mendapatkan perhatian. Didirikan sejak tahun 1990, Sekolah Kartini sudah lima kali berpindah tempat. Alasannya, digusur.

Kini, persoalan yang sama kembali dihadapi. Sekolah Kartini yang sekarang berlokasi di kolong jembatan layang Lodan Raya, Jakarta Utara, akan digusur oleh PT Kereta Api Indonesia, pemilik lahan yang ditempati sekolah ini. Batas waktu diberikan hingga 9 September 2012.

"Kami sudah digusur sebanyak lima kali. Tapi kami enggak bisa menyediakan anak-anak untuk sekolah di sekolah negeri. Karena mereka, kan, enggak diterima di masyarakat. Mereka itu tinggalnya di pinggir kali, pinggir jalan, pinggir rel. Jadi enggak bisa bergabung dengan masyarakat umum," ujar Sri Rossyati (63), salah seorang pendiri Sekolah Kartini, saat dijumpai Kompas.com, Kamis (19/7/2012).

Sekolah Kartini menempati sebuah gudang. Di sinilah berlangsung kegiatan belajar mengajar sejak tahun 2006.

Terkait rencana penggusuran, Mateta dari Humas PT KAI Daop I Jakarta, yang dihubungi secara terpisah, mengungkapkan, bangunan yang digunakan Sekolah Kartini berada di wilayah PT KAI. Sesuai aturan, kata Mateta, bangunan apa pun yang berdiri di atas hak orang lain telah menyalahi aturan. Surat pemberitahuan penggusuran sudah dilayangkan pada 2 Juli 2012. Sekolah Kartini diberikan batas waktu hingga 9 September 2012, sebelum penggusuran yang akan dilakukan sehari setelahnya, 10 September 2012.  

Untuk anak-anak pinggiran

Rossy mengisahkan, sekolah yang didirikannya memberikan pendampingan kepada anak-anak dari kelompok marjinal.  Anak-anak ini, menurut dia, tidak diterima di sekolah reguler. Keterbatasan ekonomi orangtua membuat mereka meninggalkan bangku sekolah karena tak mampu membayar berbagai kebutuhan pendukung belajar meski biaya sekolah digratiskan.

"Kalau untuk keterampilan juga mereka bayar sendiri. Disuruh menari, ya, bayar lagi Rp 50.000, ya enggak bisa. Akhirnya keluar dan putus sekolah," kata Rossy.

Ia meyakini, melalui Sekolah Kartini yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak dari keluarga miskin, akan memberikan harapan akan lahirnya generasi menjanjikan. Rossy berharap anak-anak didiknya akan mendapatkan ilmu, menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki keterampilan sehingga mempunyai kepercayaan diri untuk bergabung dengan anak-anak lain yang mengenyam pendidikan lebih baik.

"Kalau saya beli ruko (rumah toko) dan belajar di ruko, anak-anak enggak akan boleh masuk ke ruko itu. Pakaian mereka kan seadanya, belum sampai (ruko) sudah diminta keluar nanti," tambah Rossy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau