Tinta Emas Charlie...

Kompas.com - 19/07/2012, 17:19 WIB

KOMPAS.com - Nama Charlie (Charles) Depthios tak akan pernah lepas dari catatan emas olahraga Indonesia. Charlie menorehkan tinta emas dengan pernah memegang rekor dunia di kelas terbang ringan, cabang angkat besi. Prestasi terbaik Charlie itu diukir pada partisipasinya yang kedua kali di olimpiade. Olimpiade 1968 di Meksiko menjadi kesempatan pertama Charlie untuk mempersembahkan medali olimpiade bagi Indonesia.

Sabtu, 12 Oktober 1968, Charlie Depthios mengikuti defile pembukaan Olimpiade Meksiko di Estadio Olimpico Universitario. Kala itu, Charlie berusia 28 tahun dan sudah menjadi ayah bagi Ernest Depthios dan Erick Depthios.

Juara angkat besi di sejumlah arena itu hadir bersama lima atlet Indonesia lainnya, yaitu John Gunawan (layar), Irsan Husen (angkat besi), Madek Kasman (angkat besi), Robert Lucas (layar), dan Tan Tjong Sian (layar).

”Papa sering cerita, bangga sekali bisa menjadi salah satu atlet yang terjun di olimpiade. Beliau tidak pernah memikirkan kontingen Indonesia hanya enam orang atlet. Papa hanya ingin berprestasi pada kesempatan pertama tampil di olimpiade,” ujar Erick mengenai prestasi ayahnya, yang kini telah tiada.

Kala itu, Charlie menjadi andalan Indonesia pada cabang angkat besi kelas terbang ringan. Pria kelahiran Mamuju (Sulawesi Barat), 2 Februari 1940, itu langganan juara. Sejak 1960, dengan arahan Pelatih Santoso Gunawan, ia terus-menerus mencetak rekor nasional.

”Setiap kali latihan, papa selalu bikin target pecahkan rekor. Latihan biasanya dimulai dengan beban mendekati atau setara dengan rekor terakhir,” ujar Erick.

Tak sulit bagi Charlie berlatih dengan beban setara rekor terakhir. Sebab, sebagian besar rekor itu dibuatnya sendiri. April 1962, ia memecahkan rekor nasional pada nomor clean and jerk kelas terbang ringan dari 108,5 kilogram menjadi 110 kg. Rekor lama atas nama pria yang akhirnya punya tujuh anak tersebut dibuat pada Maret 1962. Sebelum itu, ia juga mencatatkan rekor dengan angkatan 108 kg.

Dalam tahun-tahun selanjutnya, Charlie tetap langganan juara di sejumlah pertandingan angkat besi nasional dan internasional. Lebih istimewa lagi, semua dicapai tanpa bimbingan pelatih tetap, setelah Santoso meninggal.

”Papa buat program latihan sendiri. Pagi, sore, malam, beliau berlatih sendiri di Senayan. Kalau ada orang latihan, papa ikut juga,” tutur Enosh, putra ketiga Charlie.

Meski tanpa pelatih, bukan berarti Charlie tidak tahu teknik. Setiap kali keluar negeri, ia selalu menyempatkan diri menimba ilmu dari pelatih di negara tuan rumah. ”Papa sering kerja sampingan di luar jadwal tanding di luar negeri. Hasilnya, antara lain, untuk membayar biaya konsultasi dengan pelatih luar negeri,” kata Enosh.

Sayangnya, pada Olimpiade 1968 itu, Charlie didiskualifikasi ketika melakukan angkatan press karena aturan baru soal posisi lutut saat mengangkat barbel. Kegagalan Charlie itu dinilai sejumlah kalangan bukanlah kesalahan Charlie, melainkan kesalahan induk organisasi angkat besi ketika itu, yang tidak mengikuti adanya aturan-aturan baru.

”Waktu pulang, tiga hari papa kehilangan semangat. Tidak mau makan, tidak nafsu berlatih. Biasanya, papa selalu semangat kalau latihan,” kata Erick.

Namun, setelah itu motivasi Charlie bangkit lagi. Ia berlatih lebih keras. Charlie pun kemudian menunjukkan kehebatannya di PON VII di Surabaya (1969) dengan mengangkat clean and jerk seberat 127,5 kg di kelas terbang. Angkatan itu melampaui rekor dunia sebelumnya di kelas yang sama atas nama lifter Rusia, Khaisisin, dengan 126,5 kg.

Pada kesempatan keduanya di Olimpiade 1972, di Muenchen, Jerman, Charlie juga menorehkan rekor dunia angkat clean and jerk di kelasnya dengan barbel seberat 132,5 kg. Sayangnya, itu dia buat pada extra lift (angkatan keempat) sehingga tidak diakui sebagai rekor olimpiade. (RAZ/OKI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau