Pengungsi Mali Perburuk Krisis Pangan di Sahel

Kompas.com - 20/07/2012, 16:11 WIB

NIAMEY, KOMPAS.com - Para pengungsi yang melarikan diri dari konflik di Mali utara membuat keadaan jadi lebih genting di kawasan Sahel, yang  menghadapi kelaparan usai panen yang gagal tahun lalu.

Lebih dari 18 juta orang di delapan negara di kawasan Sahel, yaitu wilayah semi-gersang yang melintasi Afrika utara, telah menghadapi kekurangan pangan akibat kekeringan. Kini 250.000 warga Mali yang menurut badan pengungsi PBB (UNHCR) mengungsi ke Mauritania, Burkina Faso, Niger dan Aljazair mengalami penderitaan yang lebih berat terkait sumber-sumber makanan.

Menurut Malek Triki, juru bicara Program Pangan Dunia (WFP) PBB  di Afrika Barat, kerusuhan di Mali telah "menambah beban pada penduduk lokal "untuk mencari pangan bagi mereka sendiri dan anak-anak mereka".

Kudeta pada Maret lalu yang membawa faksi-faksi gerilyawan Islam Mali menguasai daerah utara yang luas. Bamako mengatakan, para pemberontak telah menggunakan tentara anak-anak untuk bertempur dan melakukan perkosaan serta pembunuhan terhadap penduduk sipil.

Pekan lalu perdana menteri Burkina Faso memperingatkan mengenai situasi di wilayah itu.  "Jika ada lagi arus pengungsi yang besar maka itu akan menyulitkan," kata Luc Adolphe Tiao.

Penduduk Sahel yang membantu pengungsi harus mengakhiri perjuangan mereka sendiri. "Kami harus membagikan cadangan makanan kami yang sangat kurang  kepada para pengungsi Mali," kata seorang warga desa dari Niger, yang desanya Nani-Bagou di perbatasan Mali yang menjadi tempat penampungan pengungsi.

"Persediaan pangan kami habis dan kami harus meninggalkan desa itu menuju kota," katanya. Ia mengacu kepada ibu kota Niger, Niamey. "Krisis itu sangat parah," kata Moussa Zakaria, seorang warga desa lainnya yang juga terpaksa meninggalkan rumahnya pergi ke Niamey kepada AFP. Ia menambahkan ia mengharapkan panen mendatang akan dapat "mengakhiri malapetaka itu".

Krisis tahun 2011,serta kekeringan luas di wilayah itu tahun 2005 dan krisis pangan di Niger tahu 2010, menyababkan Sahel dan penduduknya dalam keadaan rawan. Mauritania, Senegal, Gambia, Mali, Burkina Faso, Niger, Kamerun dan Chad pada prinsipnya terkena dampak itu, dengan 8.5 juta orang menghadapi kondisi "sangat" kekurangan pangan. Niger, yang berpeduduk enam juta jiwa, termasuk yang mengalami kelaparan yang paling parah.

Dampak dari krisis itu di Mali bertambah berat sejak Maret lalu akibat bagian utara negara itu dikuasai gerilyawan. UNHCR memperkirakan 160.000 orang di Mali mengungsi akibat konflik tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau