KOMPAS.com - Olimpiade 1972 bukan hanya menjadi salah satu lembaran hitam bagi dunia olahraga internasional, tetapi juga lembaran menyedihkan bagi dunia olahraga Indonesia. Mendekati perhelatan Olimpiade di Muenchen, Jerman Barat, itu, Indonesia kehilangan dua pembina di cabang tinju, yaitu Brigjen Soedharto dan M Amien. Keduanya wafat di tengah pemusatan latihan petinju Indonesia yang akan turun di Olimpiade 1972.
Dalam kondisi yang penuh kesedihan itulah, dua petinju Indonesia, Williem (Wiem) Gommies dan Ferry Moniaga, harus terus berjuang untuk menegakkan Merah Putih.
”Waktu itu saya sangat terpukul. Saya sudah bilang pada orang KONI bahwa saya mau pulang saja ke Indonesia. Tapi, mereka bilang jangan, nanti kita kirim pelatih baru lagi. Mereka lalu kirim Pak (Lucas) Manuputti dari Medan. Okelah kita jalan terus, tetapi saya sebenarnya sudah tidak punya semangat lagi,” ungkap Wiem Gommies mengenang masa-masa itu, ketika ditemui Kompas saat tengah berada di Jakarta, Senin (16/7/2012).
Cobaan yang dihadapi para atlet tinju Indonesia itu belum berakhir. Tragedi pembantaian ”Black September” di Muenchen, selain mengganggu konsentrasi para atlet juga pengaruhnya dirasakan langsung Wiem Gommies.
”Waktu itu saya keluar dari asrama, waktu mau masuk lagi ditahan polisi Jerman. Mereka kira saya orang Arab. Saya kasih lihat paspor juga, mereka tidak percaya. Untung Pak Willy kemudian menelepon Pak Alamsyah dan beliaulah yang kemudian meyakinkan bahwa saya adalah atlet Indonesia, baru kemudian saya dilepas,” paparnya.
Wiem, yang ketika itu berusia 26 tahun, juga menyaksikan langsung bagaimana para penyandera atlet Israel, menembak mati seorang atlet Israel yang semula akan masuk ke asramanya, tetapi kemudian berusaha melarikan diri setelah mengetahui terjadinya penyanderaan di asramanya. Posisi asrama atlet Indonesia yang berdekatan dengan asrama atlet Israel menyebabkan atlet Indonesia pun khawatir.
Wiem menambahkan, dalam pengundian dirinya juga tidak beruntung karena langsung bertemu dengan petinju Rusia, Lemechev Vlatchaster, yang ketika itu sudah diramalkan akan menjadi juara dunia. Petinju Rusia itu, selain bertubuh lebih tinggi besar dari Wiem, juga punya pukulan sangat keras dan lebih kaya pengalaman.
Wiem yang ketika itu berhak ke olimpiade setelah menjadi Juara Asia pada kejuaraan Asia di Teheran, Iran, sudah berusaha melawan petinju Rusia itu.
”Dua kali saya sempat memasukkan pukulan, tetapi dia tidak goyang sama sekali. Dia kuat sekali. Saya sudah mengira, dia akan memasukkan pukulan. Karena itu, saya berusaha mendahului, tetapi dia mundur sebenar dan kemudian saya langsung jatuh,” papar Wiem Gommies.
Meskipun hanya terkena pukulan di dahi, Wiem tidak mampu bangun lagi hingga hitungan wasit melewati sepuluh. ”Pukulan dia keras sekali sampai saya jatuh dengan posisi kaki saling bersilangan. Waktu mau bangun, lutut terasa sakit sekali dan bengkak,” ujar petinju yang pernah merajai kelas menengah di Asia itu.
Latihan keras
Meskipun gagal memetik hasil lebih baik di Olimpiade 1972, Wiem mendapatkan pelajaran sangat berharga dari pesta olahraga dunia itu. Dia terus berlatih lebih keras sehingga mampu mempertahankan posisinya sebagai petinju terbaik Asia beberapa tahun pasca-Olimpiade 1972 itu.
”Kita harus belajar banyak dari negara-negara yang sudah maju supaya disiplin kita kuat dan bagus. Kalau enggak, kita enggak bisa. Sebenarnya pelatih Indonesia harus mau banyak belajar dari pelatih asing, tetapi sayangnya banyak pelatih Indonesia malas belajar dari mereka,” ungkap petinju yang juga pelatih tinju dan banyak mendapatkan ilmu dari pelatih-pelatih tinju asal Kuba dan Romania itu.
Akibatnya, banyak petinju Indonesia yang sebenarnya masih salah dalam melepaskan pukulan-pukulan jab, straight, dan lain-lainnya.
Wiem juga melihat porsi latihan yang dijalaninya dulu sebagai petinju, jauh lebih keras dari yang dijalani banyak petinju Indonesia saat ini.
Meski tidak mendapatkan imbalan besar, semangat untuk menjadi juara tertinggi menjadikan Wiem mampu bertahan lebih dari 10 tahun di dunia tinju dengan prestasi yang konsisten di atas.
”Kalau sekarang banyak petinju yang sudah puas sebagai juara PON saja. Mereka juga hanya muncul sebentar di atas, tetapi setelah itu hilang,” ujar Wiem yang sekarang membina petinju Ambon.
”Saya memiliki kebanggaan besar karena pernah terjun di olimpiade, tetapi meninggalnya pelatih itu memukul batin saya,” ungkap Wiem yang mengaku menangis seperti anak kecil saat M Amien wafat. (OKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang