PALU, KOMPAS.com--Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah akan mengadopsi ’budaya Filipina’ dalam menangkap tuna karena jauh lebih efektif dibanding ’budaya Mandar’ yang diterapkan nelayan Sulteng selama ini.
"Kami akan mengirim nelayan yang didampingi staf teknis ke Sulawesi Utara untuk belajar karena nelayan di sana sudah menerapkan ’budaya Filipina’ tersebut," kata Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo di Palu, Jumat.
Ia menjelaskan, budaya Filipina menangkap tuna adalah menggunakan kapal agak besar bermesin dengan didampingi sejumlah perahu kecil yang juga bermesin untuk menangkap tuna di sekitar rumpon.
Nelayan di atas kapal-kapal kecil inilah yang mengulur alat pancing sampai ke dasar laut dengan menggunakan pemberat yang didesain khusus menggunakan tinta cumi-cumi. Saat pancing tiba di dasar tertentu, tali pancing disentak lalu pemberatnya lepas dan pembungkus tinta cumi-cumi pecah lalu menyebar, sementara umpannya akan melayang-layang karena tidak memiliki pemberat lagi.
"Umpan yang melayang-layang di tengah air laut yang terkena tinta cumi-cumi ini akan menarik ikan tuna datang dan menangkap umpan yang melayang-layang itu," ujarnya.
Setelah memakan pancing, maka ikan tuna itu akan menarik pancing dengan kekuatan tenaga sampai tiga kali dari berat badan sehingga perahu dipermukaan akan terseret jauh dari rumpon.
"Untuk menjaga kualitas ikan, maka perahu kecil di permukaan harus mengikuti dahulu pergerakan ikan itu sampai ikan kelelahan lalu ditarik ke atas," ujarnya dan menambahkan, tidak masalah perahu tertarik jauh dari rumpon karena untuk kembali nelayan tersebut tinggal menghidupkan mesin tempel.
Cara ini, katanya, berbeda sekali dengan ’budaya Mandar’ yang diterapkan nelayan Sulteng karena menggunakan perahu kecil (jukung) tanpa mesin sehingga nelayan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendayung guna kembali ke rumpon. Akibatnya, nelayan tidak bisa tahan untuk berlama-lama di tengah laut mencari ikan.
"Kalau nelayan Filipina bisa sampai dua pekan di rumpon baru pulang, tapi kaau nelayan kita, empat lima hari sudah kembai ke darat karena kelelahan mendayung," ujarnya.
Selain itu, nelayan Sulteng belum menggunakan pancing dengan pemberat khusus dan tinta cumi-cumi sehingga hasil tangkapan tidak sefektif ’budaya Filipina."
Ia juga menyebutkan bahwa dalam ’budaya Mandar’ para nelayan juga menangkap ikan-ikan sedang dan kecil di sekitar rumpon, padahal itu adalah makanan tuna sehingga ikan tuna menjauh dari rumpon.
Hasanuddin menyebutkan bahwa cara menangkap tuna dengan budaya Filipina lima kali lebih efektif fari ’budaya Mandar."
"Karena itu kita tertarik untuk mempelajari ’budaya Filipina’ ini agar nelayan Sulteng bisa menerapkannya sehingga hasil tangkapan bisa ditingkatkan," ujarnya.
Sulawesi Tengah dewasa ini memproduksi tuna sekitar 7.000 ton tiap tahun padahal potensinya mencapai sekitar 35.000 ton. Harga jualnya juga relatif rendah yakni 3,5 dolar AS/kg karena volume tagkapan kecil.
"Bila produksi bisa kit tingkatkan tiga kali lipat saja dengan menerapkan ’budaya Filipina tersebut, maka tiap tahun bisa diproduksi 21.000 ton tuna dan harganya bisa menyamai harta rata-rata tuna di Sulawesi Utara yang mencapai sekitar 7 dolar AS/kg," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang