Harga Pangan Melonjak

Kompas.com - 21/07/2012, 03:00 WIB

Washington DC, Jumat - Harga komoditas biji-bijian naik mencapai rekor tertinggi, Kamis (19/7), sementara hujan yang mulai turun di kawasan Midwest, AS, tak bisa memadamkan kekhawatiran bahwa kekeringan terburuk dalam setengah abad ini belum akan berakhir.

Para ahli meteorologi mengatakan tidak menutup kemungkinan bahwa kekeringan di daerah pertanian AS itu bisa berlangsung hingga melewati bulan Oktober.

”Ada kemungkinan bahwa keadaan tidak akan membaik segera bagi kawasan Midwest, AS,” kata Dan Collins dari Pusat Prakiraan Cuaca Badan Atmosfer dan Oseanografi Nasional (NOAA) AS, Kamis.

Menurut laporan Pantauan Kekeringan AS yang dikeluarkan, Kamis, lebih dari separuh wilayah AS mengalami kekeringan sedang hingga parah pekan ini.

Lebih dari 70 persen daerah lumbung jagung Midwest mengalami kekeringan pekan ini, naik dari 63 persen sepekan sebelumnya. Para ahli iklim mengatakan, hal itu menunjukkan telah terjadi kondisi kekeringan terburuk di AS sejak tahun 1956.

”Kami tidak mempunyai alasan untuk mengatakan keadaan akan membaik,” kata Kelly Helm Smith dari Pusat Mitigasi Kekeringan Nasional dalam taklimat, Kamis, dengan menambahkan bahwa kondisi yang lebih hangat dalam bulan-bulan mendatang mungkin akan menaikkan tingkat kekeringan saat ini.

Ini berita buruk bagi para petani dan konsumen dengan jagung, kedelai dan gandum di AS terpanggang di ladang. AS adalah eksportir terbesar untuk tiga komoditas itu di dunia.

Jagung untuk pengiriman September di Chicago Board of Trade mencapai rekor tertinggi dengan harga 8,16 dollar AS per bushel, sedangkan kedelai untuk pengiriman Agustus mencapai 17,49 dollar AS. Gandum untuk September naik 4 persen menjadi 9,35 dollar AS.

Efek dari kenaikan harga itu telah terasa di seluruh dunia, di mana kekeringan juga melanda eksportir-eksportir bahan pangan lainnya yang mulai membatalkan penjualan sebelumnya.

Pertanyaan besar

Dua pertanyaan besar di kawasan jagung AS, yakni seberapa rendah hasil panen tahun ini dan seberapa tinggi harga berbagi komoditas itu masih belum terjawab. Namun, keadaan memburuk dengan tanaman jagung tidak terbuahi, dan kedelai, yang ditanam setelah jagung, menghadapi ancaman pada fase pertumbuhannya.

Negara Bagian Iowa dan Illinois, yang bersama menghasilkan sekitar sepertiga dari seluruh produksi jagung dan kedelai AS, terus terpanggang suhu panas.

”Kelembapan tanah di Iowa boleh dibilang sudah tak ada lagi sehingga tak banyak yang mempertahankan tanaman pangan. Bahkan, kalau suhu turun 5 derajat dan curah hujan meningkat 50 persen untuk sisa bulan ini, itu mungkin memperlambat laju penurunan tetapi tidak akan membalikkan penurunan dalam kondisi tanaman pangan dan panen akhir,” kata Harry Hillaker, ahli iklim Negara Bagian Iowa.

NOAA mengatakan, periode Januari-Juni merupakan periode semester terpanas yang tercatat di AS, dengan 29 negara bagian terpengaruh parah.

Saat AS mengalami kerugian, Argentina justru memetik keuntungan. Harga kedelai yang mencapai rekor karena kekeringan di AS itu diperkirakan menciptakan miliaran dollar AS pendapatan baru bagi negara Amerika Selatan yang merupakan penghasil kedelai nomor tiga dunia setelah AS dan Brasil.

Produsen kedelai Argentina masih memiliki hampir sepertiga dari panen terakhir mereka dalam lumbung dan mengharapkan keuntungan mendadak karena kini mereka bisa menjual dengan harga tinggi yang mencapai rekor. (Reuters/AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau