Jakarta, Kompas -
Kebakaran di Kelurahan Pejaten, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang terjadi hari Sabtu (21/7) mulai pukul 04.15, menghanguskan 53 rumah petak yang dihuni 159 warga. Pemicunya diduga akibat hubungan arus pendek listrik.
”Api datang dari sebuah kamar di dekat kamar mandi. Saya terbangun karena orang-orang pada teriak kebakaran! Saya lihat api sudah membesar dan saya langsung menyelamatkan dua anak saya keluar rumah,” kata Sumardi, Ketua RT 02 RW 08, Kelurahan Pejaten.
Hanya berselang 10 menit, rumah petak sewaan Sumardi itu hangus. Dia tak sempat menyelamatkan barang berharga seperti sepeda motor. Semua warga panik menyelamatkan diri. ”Setelah saya cari sepeda motor, ternyata diselamatkan warga lain. Situasinya panik,” kata Sumardi.
Api berkobar saat sebagian warga menjalankan ibadah shalat subuh. Sebagian warga lain pergi ke pasar karena penghuni rumah petak di tempat itu banyak yang menjadi pedagang. Yang tersisa di lokasi kejadian itu sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak. ”Saya kebetulan tidak ke pasar karena ingin libur pada puasa pertama,” tutur Sumardi.
Rumah petak di kawasan ini sesungguhnya milik tiga warga. Sebagian berbentuk rumah induk yang dibagi dalam kamar-kamar kecil. Rumah petak ini terdiri atas dua lantai. Luas setiap rumah petak rata-rata 5 meter persegi. Setiap unit diisi dua sampai lima orang sekaligus.
Kepala Bagian Operasi Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan Mochtar Zakaria mengatakan, lokasi permukiman itu rentan terjadi kebakaran. Selain padat, sarana instalasi listriknya juga tidak rapi. Hal ini terlihat dari kabel-kabel listrik di bekas bangunan yang terbakar, kabel itu menjulur saling tumpang tindih.
Tim pemadam kebakaran pertama kali tiba di lokasi pukul 05.15. Petugas dengan 16 mobil pemadam berhasil memadamkan api pada pukul 06.25.
Di Jakarta, menurut Heru Agus W, Kepala Seksi Pengendalian Operasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI, hampir setiap hari terjadi kebakaran. Itu disebabkan kelalaian warga yang kurang peduli mengantisipasi bahaya kebakaran. Dalam dua hari terakhir, kebakaran melanda Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.
Kepala Polsek Pasar Minggu Komisaris Adri Desas Furyanto mengatakan, pihaknya belum menemukan tanda-tanda kesengajaan dalam musibah itu. Diduga kebakaran terjadi karena hubungan arus pendek listrik. Beberapa korban dan pemilik rumah telah dimintai keterangan.
Palang Merah Indonesia membuka posko bantuan di balai RW 08 Kelurahan Pejaten, sekitar 50 meter dari lokasi kebakaran. Selain membuka dapur umum, sukarelawan PMI juga menyediakan obat-obatan untuk korban kebakaran.
Pasar Projo di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang menjadi tumpuan hidup sekitar 1.000 pedagang besar dan kecil, juga terbakar pada Jumat sekitar pukul 20.30. Kerugian material ditaksir Rp 1 triliun karena banyaknya stok barang milik pedagang untuk dijual selama Ramadhan dan Idul Fitri ludes dilalap api.
Hingga Sabtu pagi, api belum berhasil dipadamkan meski pemadam kebakaran dari Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan perusahaan garmen PT Apacinti sudah dikerahkan. Kepala Polres Semarang Ajun Komisaris Besar Ida Bagus Putra Narendra mengatakan, hidran yang ada di pasar itu rusak sehingga menghambat proses pemadaman api.
Banyak pula material mudah terbakar, seperti kain dan karet, serta angin kencang yang membuat api terus menyala. Narendra mengungkapkan, kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran dan menunggu hasil laboratorium forensik. Dugaan sementara, api berasal dari bagian belakang pasar. Api yang mulanya kecil dengan segera membesar karena pengaruh angin dan material yang mudah terbakar.
Terdapat 158 kios dan 951 los di pasar yang terdiri atas dua lantai itu dan hampir semuanya terbakar. Hanya kios bagian depan bangunan pasar di lantai satu yang selamat dari kobaran api. Kantor Pegadaian dan koperasi simpan pinjam di pasar itu juga ikut terbakar. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 1 triliun.
Pedagang mengaku baru menambah stok barang sejak sebelum Ramadhan. Pedagang pakaian, kain, dan seprai, Suripto (57), mengaku mengetahui pasar terbakar pada pukul 21.30 ketika api sudah membesar. ”Kios saya ada di tengah. Baru pagi ini saya bisa masuk dan mengambil sisa-sisa barang yang tidak terbakar,” ujar Suripto yang rugi Rp 200 juta.
”Sekarang saya belum tahu mau bagaimana. Saya berharap pemerintah menyediakan lokasi sementara agar kami tetap dapat berdagang,” ujarnya.
Pedagang lain, Ace (55), juga mengalami hal serupa. Dia bahkan mencoba masuk ke pasar untuk mengambil tabungan yang tersimpan di tokonya, tetapi tidak diperbolehkan oleh petugas. ”Saya tinggal di Kota Semarang. Ini belum tahu kondisi kios saya. Kalau habis semua, hilang sudah Rp 150 juta,” ungkapnya.
Bupati Semarang Mundjirin mengungkapkan, pihaknya akan menyiapkan lokasi alternatif agar pedagang tetap bisa berjualan. Kios darurat segera dibangun di lokasi yang terdekat dengan pasar itu.
Komandan Kodim 0714/Salatiga Letkol (Inf) Joao Xavier Barreto Nunes menuturkan, pedagang pasar seharusnya diberi pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran.