Pada hari Jumat (20/7), indeks harga saham Spanyol anjlok 5,8 persen, dan suku bunga obligasi Pemerintah Spanyol meningkat ke level berbahaya, yakni 7 persen.
”Spanyol memasuki ’lingkaran kematian’ seiring dengan naiknya suku bunga,” kata analis dari Rabobank, Richard McGuire. Suku bunga obligasi melejit ke level 7 persen, yang membuat negara harus menanggung beban biaya bunga, sementara perekonomian tidak bertumbuh.
Analisis dari Capital Economics telah mengingatkan bahwa prospek perbankan Spanyol juga amat runyam. Ini akan memaksa Pemerintah Spanyol mengeluarkan dana talangan, sementara amunisi keuangan Pemerintah Spanyol sudah tidak ada.
Hal serupa juga dikatakan analis lain. ”Masalah terbaru yang dihadapi Spanyol ini mengherankan mengingat potensi kekacauan tetap ada walau sudah dilakukan pemberian dana talangan terhadap Spanyol,” kata Daniel Pingarron, analis dari IG Markets.
”Kini semakin banyak yang yakin bahwa potensi perpecahan euro makin meningkat,” katanya merujuk pada posisi Spanyol sebagai anggota zona euro, yang justru semakin turut mengacaukan ekonomi makro Spanyol.
Prospek buruk perekonomian Spanyol makin diperparah sehubungan dengan kebangkrutan pemerintahan Valencia, daerah otonomi khusus di Spanyol timur. Valencia meminta dana 18 miliar euro kepada pemerintah pusat, yang justru sedang terlilit utang. ”Ini akan memperparah dan memperpanjang masa resesi,” kata Christian Schulz, analis dari Berenberg, sebuah bank Jerman.
Inggris juga menghadapi jalan terjal perekonomian. Hal ini terkait dengan skandal demi skandal yang membelenggu industri perbankan Inggris, dengan potensi para nasabah meninggalkan bank-banknya. Hal ini bisa membuat peran perbankan Inggris sebagai urat nadi perekonomian makin lumpuh.
HSBC, salah satu bank terbesar Inggris dan dunia, terlibat pencucian uang dengan mafia dan kelompok teroris dan juga terlibat skandal manipulasi suku bunga antarbank LIBOR. Sebelumnya, skandal manipulasi LIBOR ini lebih dulu menjungkalkan CEO Barclays Bob Diamond dan presidennya, Marcus Agius.
Ian Gordon, analis dari Investe, yakin skandal LIBOR akan memberi dampak besar pada perbankan global. ”Ini akan menjadi isu besar hingga bertahun-tahun ke depan,” kata Gordon.
Lloyds Banking Group (LBG) juga dipaksa menjual 632 cabang yang merugi ke The Co-operative Group. LBG menerima dana talangan sehingga dipaksa menjual cabang-cabang untuk mengembalikan uang Pemerintah Inggris.
The Independent Commission on Banking, badan di Inggris, sudah memprediksi bahwa Pemerintah Inggris akan dipaksa menangani kekacauan keuangan di sektor perbankan, terutama akibat praktik manipulasi yang merugikan.
Bank-bank lain di Inggris, seperti Northern Rock dan Royal Bank of Scotland, juga terpaksa diberi dana talangan. Para analis mengatakan, skandal yang meletus dari industri perbankan Inggris akan menjerembapkan perekonomian Inggris ke dalam krisis.
”Kekhawatiran terbesar adalah potensi anjloknya kepercayaan konsumen dan kepercayaan pasar terhadap perbankan Inggris, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Inggris,” kata analis senior dari Currencies Direct, Phil McHugh.
”Jika kepercayaan nasabah dan pasar anjlok terhadap industri perbankan, perekonomian Inggris akan memerlukan lagi dana talangan dari Bank of England untuk menyelamatkan perekonomian Inggris. Peringkat AAA untuk Inggris juga akan terganggu sehubungan dengan ambruknya peran perbankan Inggris dalam perekonomian,” kata McHugh.