Muslim Rohingya Masih Trauma

Kompas.com - 23/07/2012, 16:11 WIB

ZOHARA Khatun masih menderita trauma sejak melihat ayahnya dibunuh di Myanmar barat Juni lalu. "Ayah saya ditembak oleh militer Myanmar di depan saya. Desa kami dihancurkan. Kami berlari menyelamatkan diri. Saya masih tidak tahu apa yang terjadi pada ibu saya," kata dia saat tengah duduk di pondok di sebuah desa nelayan dekat kota Teknaf di tenggara Banglades.

Khatun adalah salah seorang warga muslim Rohingya yang berhasil menyeberang ke Banglades menyusul kerusuhan di Provinsi Rakhine, Myanmar barat.

Perempuan berusia 30 tahun itu beberapa kali menangis ketika menjelaskan apa yang terjadi di perbatasan.

Ia mengatakan desanya diserang saat terjadi bentrokan antara agama setempat, yang sebagian besar berasal dari minoritas Rohingya. Hampir 80 orang tewas dalam pertempuran itu dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh pasukan keamanan Myanmar terus melakukan penangkapan massal dan memaksa muslim Rohingya melarikan diri. Situasi darurat yang ditetapkan bulan lalu masih berlaku di banyak wilayah provinsi tersebut.

Tidak diinginkan

Tidak ada konfirmasi independen mengenai klaim pembunuhan diluar hukum dan tuduhan-tuduhan lain, wartawan tidak diberikan akses ke wilayah itu. Myanmar menyangkal pasukan keamanan mereka bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia.

Sejak bentrokan Juni lalu itu, ribuan pengungsi berusaha memasuki Banglades dengan naik perahu menyusuri sepanjang Tanjung Bengal dan menyeberangi sungai Naf yang memisahkan kedua negara.

"Kami terombang-ambing di perairan selama enam hari. Saya tidak bisa memberi makan anak saya selama berhari-hari," kata Khatun. "Ketika kami mendekati Banglades, kami tidak diizinkan untuk masuk. Kami tidak tahu harus pergi kemana."

Saat ini diperkirakan ada 800.000 muslim Rohingya di Myanmar barat. Pemerintah Myanmar bersikeras Rohingya adalah pendatang dari Banglades.

Tetapi Dhaka mengatakan mereka adalah warga Myanmar, sehingga mereka tidak diizinkan masuk ke Banglades. Dhaka mengatakan sudah ada 400.000 warga Rohingya yang tinggal di Banglades dan sebagian besar dari mereka adalah pendatang ilegal.

Banglades telah menolak 1.500 muslim Rohingya sejak Juni dan mengatakan tidak sanggup menolong mereka. Tetapi ada saja yang berhasil masuk seperti Zohara Khatun. Muslim Rohingya yang baru datang tinggal dengan warga desa Banglades. Mereka takut polisi setempat akan mengirim mereka ke Myanmar jika ketahuan.

Pemerintah Banglades sendiri mengatakan mereka bertekad menghentikan arus pendatang Rohingya.

Letkol Zahid Hasan dari pengawal perbatasan Banglades menunjukkan bagaimana anggota-anggotanya berpatroli di Sungai Naf untuk mencegah warga Rohingya menyusup ke negara mereka.

"Hal ini berdampak langsung pada stabilitas sosial dan juga ekonomi kami. Jika arus pendatang terus terjadi maka masalah stabilitas akan terjadi," kata Letkol Hassan. "Kadang-kadang warga Rohingya terlibat perdagangan obat, perdagangan manusia dan aktivitas-aktivitas anti sosial yang berdampak pada stabilitas sosial di wilayah ini."

Warga Rohingya membantah tuduhan tersebut.

'Kami adalah rakyat Myanmar'

Pengungsi yang berbicara pada wartawan BBC Anbarasan Ethirajan menuduh pasukan Myanmar menutup mata ketika desa mereka diserang. "Suami saya dibunuh dalam kerusuhan itu. Polisi Myanmar hanya menembaki muslim. Militer hanya menonton dari atap dan mereka tidak melakukan intervensi," kata Sayeda Begum, seorang wanita muslim Rohingya.

Warga Rohingya sudah berdatangan ke Banglades dalam 30 tahun terakhir, membawa kisah-kisah mengenai tekanan dan pengasingan.

Mereka tidak mendapat kewarganegaraan dan hak kepemilikan properti di Myanmar. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan mereka adalah satu diantara minoritas paling ditekan di dunia.

Tetapi penolakan Banglades untuk menerima pengungsi juga menuai kritik. "Kami mengerti hal ini tidak mudah. Jadi kami meminta pemerintah Banglades memberikan setidaknya status perlindungan sementara bagi mereka yang datang dari negara bagian Rakhine di Myanmar," kata Dirk Hebecker, seorang pejabat senior badan pengungsi PBB di kota Cox's Bazaar Banglades.

Warga Rohingya di Banglades tinggal di gubuk-gubuk sepanjang perbatasan tanpa air bersih, sanitasi atau fasilitas kesehatan.

Pernyataan terbaru oleh Presiden Myanmar Thein Sein bahwa Rohingya harus tinggal di negara ketiga juga menambah kesedihan para pengungsi. "Kami sangat prihatin dengan komentar presiden. Kami adalah rakyat Myanmar dan kami ingin kembali ke desa kami. Sangat sulit hidup di kamp pengungsian seperti ini," kata Ahmed Hossain, seorang pemimpin komunitas Rohingya di kamp Kutupalong, dekat Cox's Bazaar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau