KUDUS, KOMPAS.com- Perajin dan pengusaha tahu dan tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Kudus juga mengancam mogok produksi. Mereka menuntut pemerintah menurunkan harga kedelai yang diimpor dari Amerika.
Manajer Primkopti Kudus Amar Ma'ruf, Senin (23/7/2012), mengatakan, Primkopti Kudus telah berkoordinasi dengan Primkopti pusat. Rencananya mogok produksi bersama akan dilakukan pada 25-27 Juli.
"Kami telah sependapat dengan pusat. Kami berharap pemerintah tidak menutup mata dan mampu menurunkan harga kedelai impor," kata dia.
Menurut Amar, harga kedelai yang semula Rp 6.000 per kilogram kini menjadi Rp 7.650 per kilogram. Kenaikan harga itu sangat meresahkan perajin. "Kenaikan harga itu sangat cepat dan terjadi sejak awal Juli. Hal itu menunjukkan pemerintah tidak mengontrol harga kedelai," kata Amar.
Di Kabupaten Kudus, Primkopti mempunyai 250-300 anggota pengusaha tahu dan tempe. Mereka setiap bulan membutuhkan 350-400 ton kedelai impor, karena pasokan kedelai lokal tidak mencukupi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang