Pembinaan

Dapatkah Trianingsih Mencapai 10 Besar

Kompas.com - 24/07/2012, 05:30 WIB

Trianingsih tetap menjadi salah satu andalan Indonesia yang akan membela Merah-Putih di Olimpiade London 2012 yang tinggal beberapa hari lagi dimulai.

Paulus Lay, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) mengakui, hingga batas waktu entry by number Olimpiade London awal tahun ini, tiada satu pun atlet atletik Indonesia yang mencapai limit kualifikasi setiap nomor untuk dapat tampil di London.

Alhasil, keberangkatan atlet atletik Indonesia ke Olimpiade London pada 27 Juli-12 Agustus itu tidak lain karena ada jatah wild card. Jadi, setiap negara yang tidak mampu meloloskan atletnya sesuai limit kualifikasi yang ditentukan, mendapat kesempatan mengirim dua atletnya, putra dan putri.

PB PASI sejak beberapa bulan lalu menominasikan Trianingsih, pelari maraton putri terbaik saat ini, dan Fernando Lumain yang merupakan salah satu sprinter terbaik di nomor lari 100 meter putra sekarang. Fernando adalah penerima beasiswa olimpiade.

Menurut Paulus, Trianingsih ditargetkan masuk dalam 10 besar. ”Kami menyadari persaingan di olimpiade merupakan pertarungan jagoan dari ratusan negara di dunia. Ajang itu sangat berat bagi Trianingsih,” katanya.

Namun, jika Trianingsih dapat berlari kurang dari dua jam 40 menit, pelari asal Jawa Tengah ini mungkin dapat masuk urutan 10 besar.

Rekor dunia lari maraton putri saat ini atas nama Paula Radcliffe (Inggris) yang tercipta tahun 2003 di London yakni 2 jam 15 menit dan 25 detik. Menilik rekor tersebut, jelas sangat berat beban target Trianingsih.

Selain itu, rekor Asia maraton putri atas nama Mizuki Noguchi (Jepang) pada tahun 2003 adalah 2 jam 19 menit dan 12 detik.

Kemampuan Radcliffe pada tahun 2003 jelas jauh berbeda dengan kemampuannya saat ini. Pada 17 Desember nanti, usia Radcliffe yang berasal dari Davenham, Cheshire, Inggris, itu genap 39 tahun.

”Kami dengar kondisi di London kerap hujan dan suhunya pun lebih dingin. Kondisi tersebut akan membantu para pelari. Itu sebabnya, kami berharap Trianingsih dapat mencapai target 10 besar,” kata Paulus.

Catatan waktu terbaik Trianingsih tercipta di Asian Games Guangzhou 2010 yakni 2 jam 31 menit. Seorang pelari maraton hanya dianjurkan mengikuti kejuaraan dua kali dalam satu tahun. Jadi, setelah SEA Games 2011 Jakarta-Palembang, November lalu, Trianingsih hanya mengikuti separuh maraton saja pada awal tahun ini.

Beasiswa

Sementara Fernando, menjadi pilihan utama setelah cedera menimpa Franklin Ramses Burumi, sprinter asal Papua peraih tiga medali emas di SEA Games 2011.

”Selain itu, Fernando yang memiliki catatan waktu terbaik di nomor lari 100 meter 10,61 detik tersebut merupakan satu- satunya atlet Indonesia yang mendapat beasiswa dari Olympic Solidarity. Itu sebabnya, menjadi kewajiban kami untuk menampilkan atlet penerima beasiswa tersebut,” kata Paulus.

Dia menambahkan, ketimbang sprinter Indonesia saat ini lainnya, prestasi yang baru dicapai Fernando jauh tertinggal. Jangankan dengan prestasi dunia atau Asia Tenggara, di tingkat nasional saja catatan waktu Fernando masih tertinggal dari Franklin dan Fadlin. Pencapaian terbaik Franklin adalah 10,33 detik, sedangkan Fadlin 10,46 detik.

”Justru dengan kepercayaan yang diberikan PB PASI kali ini, kami harap Fernando mampu menajamkan catatan waktu terbaiknya sendiri,” ujar Paulus berharap. (NIC)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau