JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah menyentuh level terlemah dalam empat pekan terakhir, Senin (23/7/2012). Kecemasan bahwa pertumbuhan China, ekonomi terbesar kedua di dunia, yang akan kian melambat mulai menggerogoti daya tarik aset negara berkembang.
Nilai tukar rupiah kemarin melemah tajam menembus Rp 9.503 per dollar AS berdasarkan kurs tengah Bloomberg. Menurut riset Monex Investido Futures, hal ini terjadi seiring merosotnya surat utang pemerintah.
Salah seorang penasihat People's Bank of China, Guoqing Song, pada akhir pekan lalu mengatakan, produk domestik bruto China kemungkinan akan melambat ke 7,4 persen pada kuartal ini. Pada kuartal kedua tahun ini, China mencapai pertumbuhan 7,6 persen.
Imbal hasil surat utang pemerintah yang jatuh tempo pada Mei 2022 naik sebanyak 5 basis poin atau 0,05 persen menjadi 5,78 persen. Ini berdasarkan data Inter Dealer Market Association pada awal pekan ini. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak 24 Mei silam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang