Marja Mencari Jejak Hidupnya Melalui Kuliner Korea

Kompas.com - 25/07/2012, 15:38 WIB

KOMPAS.com - Sebagai host acara The Kimchi Chronicles yang ditayangkan di Starworld, Marja Vongerichten tampak begitu fasih menceritakan berbagai hidangan khas Korea. Ia tahu betul di mana mencari hidangan terbaik, meskipun itu hanya berupa sam gye tang (sup ayam ginseng), di pelosok negeri.

Setelah mencicipi hidangan tersebut bersama teman-temannya (di antaranya aktris Heather Graham), Marja kembali ke tempat tinggalnya di New York untuk memasak kembali hidangan tersebut bersama sang suami, Chef Jean-Georges Vongerichten. Seringkali mereka memasak ditemani pasangan aktor Hugh Jackman dan istrinya, Debora-Lee Furness, yang tak lain tetangga mereka di kawasan Manhattan, New York.

Melihat kecantikan Marja merupakan perpaduan antara kulit yang gelap dan wajah yang sedikit Asia, muncul rasa penasaran: berasal dari manakah ia sebenarnya. Marja, yang lahir di Uijeongbu, provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, pada 1976, lahir dari ayah berdarah Afrika-Amerika, dan ibu berdarah Korea. "Ibuku masih mengandung diriku tujuh bulan ketika ayah pergi meninggalkannya. Ayahku seorang tentara Amerika di Korea, dan ia dikirim pulang ke Amerika. Dia tak pernah melihatku," ujar Marja.

Ketika lahir, Marja dikirimkan ke panti asuhan St Vincent's Home for Amerasians (yang memelihara anak-anak campuran Amerika-Asia). Sang ibu lalu merelakan Marja yang masih berusia 3 tahun untuk diadopsi keluarga Afrika-Amerika di Virginia, di luar Washington, DC. Setelah usianya 19 tahun, Marja baru bertemu kembali dengan ibu kandungnya.

Ayah kandungnya kebetulan juga seorang marinir yang ditugaskan di Korea. Di sana lah sang ayah mencoba melacak keberadaan ibu kandung Marja. Setelah melalui serangkaian proses pencarian, ternyata ibu kandung Marja menetap di Brooklyn, New York. "Aku bahkan tidak tahu kalau dia datang ke Amerika," ujar Marja.

Setelah menemukan sang ibu, Marja bertekad untuk menemukan ayahnya. Tetapi, upaya pencarian pria bernama William H. Brown asal Mississippi, termasuk menelepon ribuan orang bernama William Brown dari buku telepon, ternyata tidak membuahkan hasil. Suatu ketika, Marja hampir menemukan titik terang, ketika ibu dari seorang tentang Amerika di Korea mengatakan putranya juga bernama William Brown. Setelah terbang ke Korea, Marja hanya mendapati kekecewaan karena itu bukan ayahnya. Sejak itu, Marja menghentikan upaya pencariannya.

"Itu bagian yang hilang dari puzzle kehidupanku. Mungkin kisah Anda dan foto pria berwajah seperti Jimi Hendrix akan sampai pada seseorang yang tahu di mana dia (ayahnya) berada. Itu pasti akan melengkapi perjalanan dan pengalamanku," kata Marja.

Dalam perjalanannya di Korea Selatan untuk acara The Kimchi Chronicles, banyak digambarkan bagaimana Marja masih berusaha melacak asal-usulnya. Kuliner Korea menjadi salah satu caranya untuk mengenal lebih jauh tradisi Korea yang separuhnya ada dalam darahnya. Ia sendiri mulai belajar memasak pada usia 12, setelah dibesarkan di lingkungan yang banyak menyantap ayam goreng dari Wendy's dan Arby's. Meskipun masih sangat mencintai ayam goreng pedas, namun kini ia selalu memasak hidangan Korea di rumah.

marja - latimes

"Belajar memasak merupakan saranan untuk memelajari budayaku. Korea itu negara yang belum banyak dimanfaatkan. Kuharap aku bisa membantu orang untuk belajar menghargai makanan Korea. Sangat sehat, dan berakar dari potongan daging, sayuran, dan bahan-bahan yang murah, namun bisa berubah menjadi hidangan dengan citarasa luar biasa," ujarnya bersemangat.

Marja menikah dengan Jean-Georges, chef yang pernah memenangkan tiga bintang Michelin, dan pemilik restoran Prime at Bellagio, Jean-Georges Steakhouse at Aria di MGM’s CityCenter, dan sejumlah restoran mewah lain di New York, Washington, DC, Chicago, Phoenix, Boston, Vancouver, BC, Cabo San Lucas, Shanghai, dan London. Jean-Georges kerap memasukkan unsur Korea ke dalam gaya memasaknya yang merupakan paduan hidangan fusion Perancis-Thailand.

“Kami biasa memasak ayam goreng ala Korea, dan nyanyi karaoke pada hari Senin malam. Aku cukup jago lho, memasak makanan Korea," seru Marja sambil tertawa.

Jean-Georges juga kerap tampil di The Kimchi Chronicles, dan membantu sang istri menulis buku Korean Cooking for an American Kitchen, yang lagi-lagi mengisahkan perjalanan spiritualnya ke tanah kelahirannya di Korea. Marja sendiri mengaku saat ini sangat dekat dengan ibu kandungnya, dan janjian untuk bertemu seminggu sekali untuk mengganti kerugian dari waktu kebersamaan mereka yang hilang dulu.

"Aku sudah menemukan ibuku. Aku telah menemukan tradisi budayaku ketika aku kembali untuk memfilmkan acara ini. Sekarang aku harus menemukan ayahku," ujarnya mantap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau