POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Meski harga kedelai telah melambung hingga menyentuh harga Rp8.500 per kilogram dari sebelumnya Rp6.000, namun para pengusaha tempe dan tahu di Kecamatan Wonomulyo tetap berproduksi, dan menolak melakukan aksi mogok seperti yang didengungkan di beberapa daerah.
Untuk bertahan, mereka lantas menaikkan harga jual tahu dan tempe hingga 50 persen dan juga mengurangi takaran kedelai. Jika sebelumnya tahu dijual dengan harga Rp 1.000 per potong, sekarang naik menjadi Rp 1.500. Dengan trik itu, sejumlah produsen tahu/tempe di Polewali Mandar malah mengaku omzet penjualan mereka justru naik hingga 100 persen, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan.
"Kalau kami mogok produksi, nanti mau makan apa. Kami tak punya keterampilan dan pekerjaan lain," ujar Budiaman, perajin tahu/tempe di Wonomulyo.
Mereka pun beralasan, tak punya pendapatan lain untuk menopang ekonomi rumah tangga, jika mereka terpaksa berhenti berproduksi. Dengan pertimbangan itulah, mereka lebih memilih menaikkan harga tahu/tempe, meski harus mendapat protes pelanggan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang