Guruh (16) misalnya, mengisi waktu menjelang buka puasa dengan menumpang sepur
Guruh bersama 50 anak panti asuhan lain, yakni Panti Asuhan Adh Dhuha di Gentan, Sukoharjo, dan Panti Asuhan Gunungan di Jayengan, Solo, Jawa Tengah, menumpang Jaladara, gerbong kayu kuno yang ditarik lokomotif. Mereka dijamu Lorin Business Resort and Spa untuk
Di dalam kereta, sambil merasakan sensasi menumpang gerbong kayu dan melempar pandang ke luar jendela, Guruh dan rekan-rekannya mendengarkan ceramah dari Ustaz Hanifullah Syukri yang mengambil tema ”Sabar dan Syukur”.
Para Putra-Putri Solo mendampingi anak-anak dari panti asuhan ini selama perjalanan dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Sangkrah, Solo. Mereka memberi penjelasan mengenai tempat-tempat bersejarah yang dilewati kereta, antara lain Museum Radya Pustaka yang merupakan museum tertua di Indonesia, Museum Batik Kuno Danar Hadi yang menyimpan 10.000 lembar koleksi batik Nusantara dari berbagai zaman serta bagian depan Kampung Batik Kauman.
Sementara anak muda di Probolinggo, Jawa Timur, biasanya menunggu waktu berbuka puasa dengan berkumpul di beberapa tempat favorit. Salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo.
Di sini, ratusan pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat mulai berjejalan masuk areal pelabuhan mulai pukul 16.00. Mereka memanfaatkan dermaga pelabuhan yang posisinya menjorok ke laut sebagai tempat beraktivitas. Mulai sekadar
”Saya biasa menanti waktu berbuka dengan teman-teman komunitas fotografi di pelabuhan. Lanskap sore hari di pelabuhan begitu indah untuk obyek foto,” tutur Agus, siswa SMA Tisnonegaran, Kota Probolinggo.
Tak beda jauh dengan anak muda di Makassar, Sulawesi Selatan, yang memanfaatkan Pantai Losari. Mereka beruntung tinggal di kota yang bersentuhan langsung dengan bibir pantai.
Anjungan Pantai Losari pun menjadi tempat favorit untuk menanti waktu berbuka puasa. Daripada merasakan perut keroncongan, menikmati indahnya panorama matahari terbenam lebih mangasyikkan.
Beragam hal bisa dilakukan di tepi pantai. Andi (19), misalnya, bergegas mengambil kamera saku dari tasnya. Dia mengajak teman-temannya
Sensasi matahari terbenam pada petang itu mampu menyedot animo pengunjung. Ratusan anak muda memadati anjungan, menikmati proses tenggelamnya sang surya sambil menunggu azan maghrib.
Di antara mereka ada yang mengabadikan momen itu dengan kamera, tak sedikit pula yang menikmatinya dengan sekadar
Adapun sejumlah anak muda di Magelang, Jawa Tengah, memilih berolahraga sambil menunggu beduk maghrib. Meski berpuasa, mereka ternyata masih punya energi untuk berolahraga.
Kegiatan itulah yang dilakukan kelompok Street Runner of Magelang Tricking atau disingkat Strom Matrix. Tricking adalah seni bela diri yang menggabungkan olahraga, senam, dan berbagai jenis gerakan akrobatik.
Anton Suhela (18), Wakil Ketua Strom Matrix, mengatakan, rutinitas latihan mereka sebenarnya hanya tiga kali seminggu. Namun, khusus selama bulan puasa ini, latihan terus mereka lakukan setiap sore menjelang buka puasa.
”Kalau diisi dengan latihan dan berolahraga, waktu menunggu azan maghrib jadi tidak terasa lama,” ujarnya.
Seperti sore itu, misalnya, lebih dari 10 anggota komunitas ini mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan melatih tendangan di Lapangan Rindam IV Diponegoro, Kota Magelang. Semua anggota komunitas ini sama seperti MuDAers, pelajar SMA dari sejumlah sekolah di Magelang.
Sebagian anak muda di Kota Medan, Sumatera Utara, menunggu waktu berbuka puasa dengan turun ke jalan. Kali ini tidak untuk berdemonstrasi, tetapi berjualan aneka penganan buka puasa di Jalan Mansyur di depan Universitas Sumatera Utara.
Berbagai motivasi melatarbelakangi mereka berjualan. Dari iseng karena sedang libur, sambil kumpul bareng teman-teman menunggu waktu berbuka, mencari uang saku tambahan, hingga mencari dana untuk kegiatan di kampus. Mereka bersaing bersama para pedagang ”profesional”.
Ada anak muda yang memasak dan menciptakan menu sendiri, tetapi ada yang sekadar memesan dan menjualkannya. Untungnya bisa mencapai Rp 100.000 setiap sore, hanya dari pukul 16.00 hingga saat buka puasa.
Herdiansari (19) dan Karmila Handayani (19), misalnya, memasak sendiri berbagai penganan yang dijual, seperti bubur sumsum dan bubur kacang hijau. Mereka juga membuat resep es campur yang dinamai es pantai. Modalnya patungan, masing-masing Rp 150.000.
”Keuntungan kami rata-rata Rp 100.000 per hari,” tutur Karmila yang menggelar dagangan dengan mengusung meja dari rumah.