"Ngabuburit" YANG ENGGAK MAHAL

Kompas.com - 27/07/2012, 04:58 WIB

”Ngabuburit” tak bisa dilepaskan dari masa puasa. Hampir bisa dipastikan, MuDAers punya berbagai kegiatan untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa. Teman-teman di sejumlah daerah pun punya kebiasaan masing-masing selama ”ngabuburit”.

Guruh (16) misalnya, mengisi waktu menjelang buka puasa dengan menumpang sepur kluthuk Jaladara. Dia merasa mimpinya seakan menjadi kenyataan. Keinginan sederhana yang ia rasakan hampir mustahil diraih penghuni panti asuhan seperti dirinya. Maklum, untuk naik kereta kuno itu perlu Rp 3,5 juta per rombongan.

Guruh bersama 50 anak panti asuhan lain, yakni Panti Asuhan Adh Dhuha di Gentan, Sukoharjo, dan Panti Asuhan Gunungan di Jayengan, Solo, Jawa Tengah, menumpang Jaladara, gerbong kayu kuno yang ditarik lokomotif. Mereka dijamu Lorin Business Resort and Spa untuk ngabuburit.

Di dalam kereta, sambil merasakan sensasi menumpang gerbong kayu dan melempar pandang ke luar jendela, Guruh dan rekan-rekannya mendengarkan ceramah dari Ustaz Hanifullah Syukri yang mengambil tema ”Sabar dan Syukur”.

Para Putra-Putri Solo mendampingi anak-anak dari panti asuhan ini selama perjalanan dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Sangkrah, Solo. Mereka memberi penjelasan mengenai tempat-tempat bersejarah yang dilewati kereta, antara lain Museum Radya Pustaka yang merupakan museum tertua di Indonesia, Museum Batik Kuno Danar Hadi yang menyimpan 10.000 lembar koleksi batik Nusantara dari berbagai zaman serta bagian depan Kampung Batik Kauman.

Tempat asyik

Sementara anak muda di Probolinggo, Jawa Timur, biasanya menunggu waktu berbuka puasa dengan berkumpul di beberapa tempat favorit. Salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Kota Probolinggo.

Di sini, ratusan pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat mulai berjejalan masuk areal pelabuhan mulai pukul 16.00. Mereka memanfaatkan dermaga pelabuhan yang posisinya menjorok ke laut sebagai tempat beraktivitas. Mulai sekadar nongkrong menanti matahari tenggelam, berkumpul dengan komunitas sepeda atau motor, komunitas fotografi, sampai memancing.

”Saya biasa menanti waktu berbuka dengan teman-teman komunitas fotografi di pelabuhan. Lanskap sore hari di pelabuhan begitu indah untuk obyek foto,” tutur Agus, siswa SMA Tisnonegaran, Kota Probolinggo.

Tak beda jauh dengan anak muda di Makassar, Sulawesi Selatan, yang memanfaatkan Pantai Losari. Mereka beruntung tinggal di kota yang bersentuhan langsung dengan bibir pantai.

Anjungan Pantai Losari pun menjadi tempat favorit untuk menanti waktu berbuka puasa. Daripada merasakan perut keroncongan, menikmati indahnya panorama matahari terbenam lebih mangasyikkan.

Beragam hal bisa dilakukan di tepi pantai. Andi (19), misalnya, bergegas mengambil kamera saku dari tasnya. Dia mengajak teman-temannya berpose di anjungan dengan latar belakang matahari terbenam. ”Ayo cepat, mumpung perpaduan warna matahari dan langitnya bagus,” ujarnya kepada Annisa (19), Nina (19), dan Teddy (19), Senin (23/7) sore.

Sensasi matahari terbenam pada petang itu mampu menyedot animo pengunjung. Ratusan anak muda memadati anjungan, menikmati proses tenggelamnya sang surya sambil menunggu azan maghrib.

Di antara mereka ada yang mengabadikan momen itu dengan kamera, tak sedikit pula yang menikmatinya dengan sekadar nongkrong di sepanjang tepi pantai. Suasana itu makin semarak dengan lantunan musik sejumlah pengamen yang mengais rezeki di sini.

Berolahraga

Adapun sejumlah anak muda di Magelang, Jawa Tengah, memilih berolahraga sambil menunggu beduk maghrib. Meski berpuasa, mereka ternyata masih punya energi untuk berolahraga.

Kegiatan itulah yang dilakukan kelompok Street Runner of Magelang Tricking atau disingkat Strom Matrix. Tricking adalah seni bela diri yang menggabungkan olahraga, senam, dan berbagai jenis gerakan akrobatik.

Anton Suhela (18), Wakil Ketua Strom Matrix, mengatakan, rutinitas latihan mereka sebenarnya hanya tiga kali seminggu. Namun, khusus selama bulan puasa ini, latihan terus mereka lakukan setiap sore menjelang buka puasa.

”Kalau diisi dengan latihan dan berolahraga, waktu menunggu azan maghrib jadi tidak terasa lama,” ujarnya.

Seperti sore itu, misalnya, lebih dari 10 anggota komunitas ini mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan melatih tendangan di Lapangan Rindam IV Diponegoro, Kota Magelang. Semua anggota komunitas ini sama seperti MuDAers, pelajar SMA dari sejumlah sekolah di Magelang.

Menambah penghasilan

Sebagian anak muda di Kota Medan, Sumatera Utara, menunggu waktu berbuka puasa dengan turun ke jalan. Kali ini tidak untuk berdemonstrasi, tetapi berjualan aneka penganan buka puasa di Jalan Mansyur di depan Universitas Sumatera Utara.

Berbagai motivasi melatarbelakangi mereka berjualan. Dari iseng karena sedang libur, sambil kumpul bareng teman-teman menunggu waktu berbuka, mencari uang saku tambahan, hingga mencari dana untuk kegiatan di kampus. Mereka bersaing bersama para pedagang ”profesional”.

Ada anak muda yang memasak dan menciptakan menu sendiri, tetapi ada yang sekadar memesan dan menjualkannya. Untungnya bisa mencapai Rp 100.000 setiap sore, hanya dari pukul 16.00 hingga saat buka puasa.

Herdiansari (19) dan Karmila Handayani (19), misalnya, memasak sendiri berbagai penganan yang dijual, seperti bubur sumsum dan bubur kacang hijau. Mereka juga membuat resep es campur yang dinamai es pantai. Modalnya patungan, masing-masing Rp 150.000.

”Keuntungan kami rata-rata Rp 100.000 per hari,” tutur Karmila yang menggelar dagangan dengan mengusung meja dari rumah.

Ngabuburit tak cuma ”membuang” waktu menunggu buka puasa. Banyak hal bisa dilakukan anak muda sambil ngabuburit. Apalagi bila ngabuburit itu berdampak positif bagi kita dan lingkungan sekitar. Ngabuburit tak perlu berbiaya mahal, malah kita bisa mendapat uang buat Lebaran....

(WSI/RIZ/EKI/DIA/EGI/SIE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau