LONDON, KOMPAS.com - Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Mitt Romney, menjalani serangkaian pertemuan dengan pemimpin Inggris, Kamis (26/7), sehari setelah tiba di London. Namun, kunjungan yang sedianya untuk memperlihatkan kekuatan diplomasi luar negeri Romney ini malah diramaikan dengan kontroversi.
Kontroversi pertama terkait pemberitaan harian Inggris Daily Telegraph, yang mewawancarai dua penasihat Romney. Salah satu dari mereka mengatakan, ”Kami adalah bagian dari warisan budaya Anglo-Saxon, dan dia merasa hubungan khusus ini sangat spesial. Gedung Putih tidak sepenuhnya mengapresiasi sejarah bersama yang kita bagi.”
Komentar bahwa Romney— tak seperti Presiden AS Barack Obama—lebih memahami asal- usul serta hubungan sejarah Inggris dan AS ini mengundang kekesalan Gedung Putih, yang menganggapnya sebagai serangan rasial. Ahli strategi tim kampanye Obama, David Axelrod, menyebut komentar itu ”serangan yang mengejutkan”.
Kubu Romney buru-buru meralat pernyataan itu. Juru bicara kampanye Romney, Amanda Hennenberg, mengatakan, laporan itu keliru. ”Itu tidak benar. Jika ada orang yang mengatakan itu, hal itu tidak merefleksikan pandangan Romney atau tim kampanyenya,” ujar Hennenberg.
Dalam wawancara dengan NBC News, Romney mengaku tak tahu siapa penasihat yang diwawancara Daily Telegraph, dan membantah pernyataan tersebut.
”Saya percaya presiden mengerti soal itu. Jadi, tidak setuju dengan siapa pun penasihat itu. Tetapi, saya sepakat, kami memiliki hubungan erat dengan Inggris,” ujarnya.
Olimpiade
Komentar lain yang dinilai tak diplomatis adalah kritik Romney pada penyelenggaraan Olimpiade London 2012. Pembukaan Olimpiade ketiga yang diselenggarakan Inggris itu, Jumat ini, akan dihadiri Romney dan istrinya, Ann.
”Sulit untuk mengetahui bagaimana akhirnya. Ada beberapa hal yang mengkhawatirkan, seperti perusahaan keamanan swasta yang tak berhasil mengumpulkan cukup petugas keamanan serta pemogokan petugas imigrasi dan bea cukai, itu bukan hal yang membesarkan hati,” katanya.
Romney juga mempertanyakan apakah rakyat Inggris sepenuhnya mendukung Olimpiade, yang menurut dia sebagai kunci sukses. Dia berkaca pada kesuksesannya memimpin penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, yang sebelumnya nyaris berantakan karena skandal suap.
Selama tiga hari kunjungannya ke Inggris, Romney dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Menteri Luar Negeri William Hague. Mantan PM Tony Blair yang kini menjadi Utusan Khusus untuk Timur Tengah juga menerima Romney di kantor pribadinya di dekat Hyde Park, dan keduanya berdiskusi tentang proses perdamaian di Timur Tengah.
Setelah mengikuti pembukaan Olimpiade, Romney melanjutkan perjalanan ke Israel dan Polandia. (AP/AFP/Reuters/was)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang