Ribuan Orang di Tokyo Protes PLTN

Kompas.com - 30/07/2012, 07:28 WIB

TOKYO, KOMPAS.com -- Ribuan pengunjuk rasa anti-nuklir menggelar aksi di kompleks gedung parlemen Jepang di Tokyo, hari Minggu (29/07). Mereka menentang pembukaan kembali PLTN. Sekitar 10.000 orang berjalan dari taman di dekat parlemen untuk membentuk rantai manusia.

Mereka mengutuk rencana pemerintah membuka kembali semua reaktor yang ditutup menyusul gempa bumi dan tsunami yang melumpuhkan PLTN di Fukushima, Maret tahun lalu.

Para wartawan mengatakan skala penentangan terhadap pemanfaatan energi nuklir belum pernah sebesar ini dalam sejarah Jepang.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka marah dengan keputusan pemerintah mengoperasikan kembali dua reaktor bulan ini meski muncul kekhawatiran keselamatan. "Orang-orang ini bersatu untuk menyuarakan pendapat mereka," kata Shoji Kitano, pensiunan berusia 64 tahun kepada kantor berita Associated Press.

Standar kehidupan rakyat

Kitano mengatakan ini adalah unjuk rasa menentang nuklir terbesar sejak 1960-an.  Ia menegaskan biasanya warga biasa di Jepang tidak suka berunjuk rasa namun kali ini mereka marah dengan keputusan pemerintah mengoperasikan kembali PLTN.

Demonstrasi serupa digelar setiap hari Jumat di luar kediaman perdana menteri.  Jumlah para penentang energi nuklir tidak susut dan mereka memanfaatkan media sosial seperti Twitter untuk menyebarkan informasi rencana unjuk rasa.

Aksi pada 16 Juli di satu taman besar di Tokyo diikuti oleh hampir 200.000 warga, termasuk di antaranya seorang bintang rock dan pemenang hadiah Nobel.

Perdana Menteri Yoshihiko Noda mengatakan pemerintah perlu mengaktifkan kembali PLTN di Jepang tengah untuk mempertahankan standar kehidupan masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau