Foke Harus Konsisten Jaga Kebersamaan Warga

Kompas.com - 30/07/2012, 07:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selaku calon petahana Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo diharapkan bisa konsisten dalam menjaga kebersamaan dalam kebhinekaan warga DKI Jakarta. Komitmen tersebut bisa ditunjukkan dengan tindakan tegas dalam menghilangkan isu SARA yang berkembang dalam Pemilukada DKI Jakarta saat ini.

"Sepatutnya yang bersangkutan konsisten. Ketika dia mengatakan isu SARA tidak boleh digunakan, berarti harus ada konsistensi. Pemimpin itu dilihat dari konsistensinya, kalau dia bisa jaga maka muncul trust (kepercayaan) dari warga," kata Siti Zuhro, pengamat politik LIPI saat dihubungi wartawan, Sabtu (28/7/2012).

Foke sendiri sebenarnya sudah menyampaikan teguran terbuka melalui media massa untuk tidak menggunakan isu SARA dalam menyerang pesaingnya dalam Pilkada DKI, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. Namun, keseriusannya berupa teguran langsung kepada pendukungnya masih diragukan lantaran isu SARA masih terus berkembang.

Menurut hasil pantauan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPRR), isu SARA kebanyakan disebarkan melalui SMS dan pesang singkat Blackberry (BBM). Selain itu, isu SARA juga menyebar melalui poster dan kegiatan keagamaan.

Menurut Siti, seharusnya calon petahana memiliki keunggulan jika bisa mengangkat capaian tertentu dalam periode kepemimpinan sebelumnya. Capaian tersebut seharusnya tinggal diolah menjadi program peningkatan yang dikomunikasikan kepada calon pemilih. "Sebetulnya kalau incumbent populis, sudah tidak sulit meraih dukungan masyarakat. Pencapaian-pencapaian incumbent bisa dengan mudah disosialisasikan. Visi misi ke depan yang dipaparkan, itu yang harus dikontestasikan," imbuh dia.

Hal senada disampaikan pengamat politik Universitas Nasional YF Ansy Lema. Menurut dia, pemimpin Jakarta yang sejati adalah pribadi yang bisa merangkul kebhinekaan warga menjadi kebersamaan yang utuh, bukan sebaliknya, menciptakan dikotomi dalam masyarakat. "Pemimpin Jakarta harus bisa merangkul semua warga Jakarta dari berbagai latar belakang etnis, agama dan golongan. Komitmen itu harus diucapkan pemimpin lewat tindakan nyatanya, bukan sekedar verbalisme. Pemimpin harus menjadi perekat warga Jakarta, tidak boleh ada dikotomi antara penduduk asli dan pendatang," tandas pemandu acara dialog politik di salah satu stasiun TV itu.

Berkaca dari hasil putaran pertama Piukada DKI, baik Siti maupun Ansy meyakini isu tersebut tidak akan berpengaruh signifikan bagi pilihan warga. Siti menilai pemilih Jakarta sudah cukup rasional untuk tidak termakan isu sempit. Sementara itu, Ansy bahkan menilai memainkan isu SARA bisa membuahkan antitesis bagi penyebarnya. "Kita harapkan Pilkada DKI jadi "role model" bagi Pilkada yang rasional dengan kontestasi program bukan memunculkan isu-isu yang dimanfaatkan untuk komoditi politik," kata Siti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau