Puasa di Kampung Apung, Adem!

Kompas.com - 31/07/2012, 04:10 WIB

 JAKARTA, KOMPAS.com - Kampung Apung, suatu daerah di kawasan Kapuk Cengkareng, Jakarta Barat ini memang diwacanakan Pemkot Jakarta Barat sebagai salah satu tujuan wisata. Dari namanya saja, orang akan mengira kalau lokasi pemukiman 426 jiwa ini merupakan satu kawasan yang menawarkan wisata air. Padahal, senyatanya tidak demikian. Justeru, kampung yang dulunya disebut Kapuk Teko ini, hanyalah sebuah dataran rendah biasa.

Sebelum dikepung bangunan pabrik, gedung dan komplek perumahan, Kapuk Teko merupakan dataran hutan yang memiliki ragam tanaman, diantaranya pohon Kapuk. Karena kawasan ini juga terdapat sebuah rawa, maka dataran rendah itu pun disebut Kapuk Teko. "Dulunya hutan kapuk, sebagian datarannya juga ada yang dijadikan sebagai tempat pemakan umum. Tapi sejak banyak bangunan, air rawa sering banjir dan menggenangi daerah ini. Tahun 1995-an, genangan air sudah masuk ke wilayah pemukiman, ya karena daerah serapan air sudah berkurang," kata Rudi Suwandi (42), ketua RT 010/01 kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (30/7/2012) .

Rudi mengaku dibesarkan di Kapuk Teko tersebut. Ia juga menuturkan, Kapuk Teko ini memiliki versi sejarah lain selain hutan Kapuk dan air rawa yang identik sebagai tempat tuangan air layaknya sebuah teko. "Ada yang menyebutkan juga kalau di kawasan ini dulunya ada teko yang besar, tapi versi lain ada yang bilang kalau kawasan ini bikin orang kapok datang kemari, karena cuma ada hutan doang, makanya ada sebutan Kapuk Teko," kenang Rudi.

Akan tetapi, nyatanya Kapuk Teko berubah menjadi Kampung Apung. Bahkan, nama Apung ini dijadikan identitas kampung tersebut. "Karena sudah lebih dari dua puluh tahun warga disini mengalami banjir yang permanen, orang-orang juga menyebutnya sebagai kampung yang terapung," katanya lagi menyebutkan sejak 2009, kawasan ini pun mulai dikenal sebagai Kampung Apung. "Tadinya mau ada relokasi, tapi warga disini sudah betah, susah senang gak mau pindah. Sudah mendarah-daging," katanya.

Rudi mencatat ada sekitar 203 Kepala Keluarga, 122 adalah penduduk tetap, 81 penduduk pendatang. "Di sini adem, makanya bagaimana pun warga tetap pengennya bertahan. Kalau untuk dijadikan wisata, emang kadang mahasiswa ada yang berkunjung, tapi disini ada apa?" ujarnya merasa kondisi Kampung Apung belum cukup layak untuk dijadikan sebagai obyek wisata.

"Kalau ada yang kesini, paling kita arahkan ke wisata budidaya lele, taman terapung, rumah belajar terapung dan juga ada saung-saung terapung di sana," tunjuk Rudi ke kawasan yang luasnya 4 hektar tersebut.

Kini, kawasan itu sebagian besarnya adalah rawa kering, dengan duapertiganya merupakan rawa yang terapung. Rumah warga yang sempat terendam pun ditimbun dengan tanah kembali sehingga sedikit demi sedikit warga pun meninggikan bangunannya kembali. Singgah di kawasan Kampung Apung tersebut, kadang kita akan merasakan hembusan dan ketenangan angin di sana. Apalagi saat bulan puasa begini, berkunjung ke sana hawanya sejuk dan adem.

"Tapi saya berpesan, kalau mau dijadikan wisata. Mestinya ada penataan air dan sirkulasi yang baik, jadi bukan sekedar air genangan. Ada perputaran air juga dari kawasan Kampung Apung dan ke rumah pompa yang ada,"pintanya menginginkan rumah pompa yang ada lebih dekat kawasan pemukiman tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau