BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Bulog Divisi Regional Kalimantan Timur bersama sejumlah badan usaha milik negara di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menggelar bazar murah, Senin (30/7/2012). Kegiatan ini bertujuan meredam lonjakan harga bahan pokok menjelang Lebaran.
Sebanyak 6.000 paket sembako didistribusikan dengan harga sepertiga dari harga normal di pasaran, Senin. Paket sembako berisi beras 9 kg, minyak goreng 1 liter, gula 1 kg, dan dua bungkus mi instan. Masyarakat cukup menebus Rp 30.000 dengan membawa bukti kupon dari pihak kecamatan. Harga ini sepertiga dari nilai paket sembako, yakni Rp 100.000.
”Tahap selanjutnya bisa dilakukan lagi sebelum Lebaran,” ujar Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Divre Kaltim M Taufik AZ.
Agus Rohman, Kepala Seksi Pengadaan dan Analisis Harga Pasar Bulog Divre Kaltim sebelumnya menyampaikan, pihaknya menyiapkan stok beras yang cukup, yakni 2.000 ton, untuk menghadapi Lebaran. Jumlah itu terbilang cukup aman hingga beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, Bulog Sub Divre VI Pekalongan, Jawa Tengah, akan segera menyalurkan bantuan beras untuk rakyat miskin (raskin) ke-13 di wilayah itu yang meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, serta Kota Tegal dan Kota Pekalongan. Penyaluran raskin ke-13 dimaksudkan untuk menambah pasokan beras di masyarakat sehingga harga terkendali.
Kepala Bulog Sub Divre VI Pekalongan Fasika Khaerul Zaman mengatakan, penyaluran raskin ke-13 akan dilakukan pada Agustus.
Menurut Khaerul, penyaluran raskin untuk bulan Juli sudah selesai dilakukan. Pada akhir Juli, pihaknya masih menyalurkan raskin untuk Agustus yang saat ini sudah mencapai 25 persen.
Seiring naiknya harga beras, petani di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menikmati hasil panen dari musim tanam kemarau pertama. Harga gabah kering panen menembus Rp 4.100 per kg, jauh lebih baik daripada panen musim rendeng lalu sekitar Rp 3.600 per kg.
”Kalau gabah kering giling bisa sampai Rp 4.500 per kg, apalagi nanti kalau sudah tidak ada panen pasti akan naik,” kata Mudli (82), petani asal Desa Denanyar, Kabupaten Jombang, Senin.
Ia mengatakan, amat jarang petani menyimpan gabah hasil panen. Setiap kali panen, petani selalu berhadapan dengan kebutuhan mendesak, termasuk menyiapkan biaya tanam musim kemarau kedua.
”Umumnya hanya menyimpan sedikit dari hasil panen karena desakan kebutuhan dan menyiapkan biaya untuk tanam lagi. Biasanya bila musim panen tiba, langsung dijual ke bakul atau tengkulak,” katanya.
Zainul Fauto (40), salah seorang petani asal Desa Megaluh, mengatakan, harga gabah kering panen sekarang ini jauh lebih baik daripada saat panen musim rendeng lalu. Gabah hasil panen musim kemarau pertama kadar airnya lebih rendah. (PRA/WIE/TIF/KOR)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang