Pascakebakaran

Warga Pekojan Mulai meninggalkan Posko pengungsian

Kompas.com - 31/07/2012, 14:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mendapat bantuan kerja bakti dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat, satu-persatu warga Pekojan mulai meninggalkan posko pengungsian. Beberapa warga, bahkan ada yang sudah bermalam di atas puing-puing rumahnya tadi malam. Mereka tahu, Posko pengungsian itu tidak selamanya ada. Bantuan dari para donatur pun tidak selamanya tersedia.

Adalah Supriyadi (38), warga Jembatan Item di RT 08 RW 07 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat memutuskan kalau sejak hari kedua pascakebakaran, dirinya sudah mulai merajut kehidupannya lagi. Kepada Kompas.com, Ia menuturkan bahwa duduk di pengungisan tidak lebih baik daripada tinggal di antara puing rumahnya sendiri

"Tinggal di posko sumpek, banyak yang sakit. Kasihan, anak saya banyak, ada lima, ditambah mertua dan istri saya. Lebih baik saya mendirikan tenda sendiri dekat rumah," katanya, Selasa (31/7/2012).

"Awalnya saya doang yang nginep di sini, baru sudah ada tenda begini kami semua kesini," katanya.

Meski kerap mendapat bantuan dari tetangganya untuk makan sahur dan berbuka, keluarga Supriyadi memilih untuk masak sendiri. "Kalau ada yang ngasih ya diterima, tapi istri saya sudah mulai masak sendiri. Sekarang dia lagi belanja di Pasar Angke," ujarnya.

Hal yang sama dilakukan Nur Qomariah (27). Siang itu wanita yang sedang hamil muda ini memilih tinggal di balik tembok rumahnya yang masih tersisa. "Saya ikut suami dan keluarga, ada saudara, dan satu anak saya umurnya empat tahun," katanya tetap ceria.

Perempuan asal Madura ini berencana akan membangun rumahnya kembali. Saat ini, ia sedang sibuk mengukur sana sini, karena menurut informasi yang diterimanya, akan ada bantuan dari yayasan swasta di Taiwan yang siap membantu proses pembangunan rumah.

"Lagi coba mengurus bantuan, katanya dari RT akan bantu memroses, semoga saja ada," katanya.

Menurut Lurah Pekojan, Agus Yusuf, soal bantuan membangu rumah itu, ia memang sudah menyatankan warganya untuk membangun kembali rumahnya sesuai dengan kemampuan warga. Kalau tidak mampu, bolelh diurus surat-suratnya segera.

"Sepanjang itu tidak bermasalah, warga diperbolehkan membangun kembali rumahnya, dengan satu catatan tanahnya tidak bermasalah dengan tanah pemerintah, dan yang lainnya," ujar Agus.

Ia juga menyarankan warga untuk memberikan data melalui RT, RW, Kelurahan sampai ke Wali Kota. "Nanti yang tidak sanggup membangun akan diarahkan ke Yayasan Budha Suci, Taiwan. Data batas rumahnya harus jelas. Karena yayasan akan mensurvei setelah data warga berhasil diinvetarisasi Camat sampai ke Wali Kota," ujarnya.

Agus mengatakan, pihaknya akan melakukan diskusi dengan warga soal perencanaan dan tata ruang permukiman warga. Diharapkan ke depannya, permukiman padat tersebut tidak lagi semrawut. Namun hal itu masih hanya sekadar wacana dan belum ada realisasinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau