Elpiji 3 Kilogram di Trenggalek Langka

Kompas.com - 31/07/2012, 18:58 WIB

TRENGGALEK, KOMPAS.com -- Bahan bakar gas (BBG) elpiji ukuran tiga kilogram di sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mulai langka sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar pengganti minyak tanah tersebut.

Koresponden Antara di Trenggalek, Selasa (30/7/2012) melaporkan, kelangkaan yang dipicu oleh keterlambatan pasokan dari distributor ke tingkatan pengecer itu secara perlahan telah memicu kenaikan harga elpiji di pasaran, yakni dari harga normal Rp12.500/tabung menjadi Rp17.500/tabung.   

Belum diketahui secara pasti penyebab kelangkaan yang informasinya juga terjadi di sejumlah daerah lain di eks-Karesidenan Kediri tersebut. Namun menurut keterangan sejumlah pedagang, stok elpiji yang mereka terima kerap terlambat dan jatahnya dikurangi oleh pihak distributor.

"Biasanya dua atau tiga hari sekali pasokan elpiji dikirim oleh distributor, kini bisa lima hari baru dikirim atau bahkan jarak seminggu, itupun jumlahnya dikurangi," ujar Muttaqien, pedagang elpiji di Kecamatan Gandusari.    

Di salah satu kawasan yang masuk kategori dataran dan lokasinya cukup dekat dengan pusat Kota Trenggalek itu, harga elpiji ukuran tiga kilogram atau jenis melon rata-rata telah dijual dengan harga di kisaran Rp13.500-Rp14.000/tabung.    

Namun kenaikan lebih parah terjadi di daerah pegunungan atau nondataran, seperti di daerah Kecamatan Kampak, Munjungan, Watulimo, Pule, Panggul, serta Dongko.

Di daerah-daerah tersebut, terutama di kawasan pemukiman pelosok, harga elpiji jenis melon bisa tembus hingga kisaran Rp17.500/tabung. Sulitnya medan dan jarak tempuh yang jauh menyebabkan armada angkut elpiji milik distributor jarang menjangkau kawasan tersebut.    

Akibatnya, pedagang eceran terpaksa belanja gas elpiji lebih jauh sehingga menambah beban biaya angkut. Minimnya stok elpiji di toko-toko maupun warung eceran diduga semakin memperparah situasi di tingkatan konsumen.

"Kami juga tidak tahu kenapa begini (langka), sebab jatah yang kami terima dari stasiun pengisian dan pengangkutan bahan bakar elpiji (SPPBE) juga telah dikurangi. Biasanya kami bisa mengambil jatah hingga 1.000 tabung lebih, kini maksimal hanya 600 tabung," tutur Slamet, salah satu distributor elpiji untuk daerah Kecamatan Gandusari, Kampak, Munjungan, serta Watulimo.

Pengurangan jatah elpiji jenis melon tersebut, menurut pengakuan Slamet, menyebabkan fokus area distribusinya sementara dipersempit dan mendahulukan pelanggan di dataran karena memiliki jarak lebih dekat.

Sementara untuk daerah pegunungan dan pesisir selatan Trenggalek, kata Slamet, frekuensi pengiriman dikurangi dengan alasan pemerataan.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pertambangan dan Energi Dinas Koperasi Industri Perdagangan Pertambangan dan Energi (Koperindagtamben) Kabupaten Trenggalek, Priaji Artomo mengaku belum mengetahui adanya kelangkaan tersebut.

Ia berdalih, masalah pasokan gas elpiji menjadi kewenangan bagian perekonomian sementara pihaknya hanya sebatas melakukan pengawasan.

"Kami memang belum mengetahui jika terjadi kelangkaan elpiji karena memang bukan kewenangan (dinas) koperindagtamben. Tapi sejauh kami tahu, persediaan di SPPBE juga tidak pernah telat ataupun kekurangan. Jadi aneh juga kalau sampai langka," ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau