Pemadaman listrik

Media Kecam dan Menuduh Pemerintah India Lumpuh

Kompas.com - 01/08/2012, 15:04 WIB

NEW DELHI, KOMPAS.com- Media-media cetak di India mengecam pemerintah dan mengatakan dua peristiwa pemadaman listrik di awal pekan ini telah menjadi bahan tertawaan komunitas internasional. "Negara Adidaya India, RIP" atau "Negara Adidaya India, Beristirahat dalam Damai" demikian salah satu judul tulisan di halaman depan Harian Economic Times, edisi Rabu (1/7).

Di bagian judul itu juga dituliskan "The New Idea of India: Push 50 Percent into Darkness." Ini bisa diartikan sebagai "Ide Baru India: Mendorong 50 Persen ke Kegelapan".

Pemadaman listrik terjadi di India pada hari Senin dan Selasa lalu dan membuat gelap gulita kehidupan 600 juta warga India. Harian itu menambahkan, citra india sebagai hub teknologi informasi dan sebagai bagian dapur produksi dunia telah tercoreng. Demikian halnya harian lain seperti The Times of India, menuliskan judul "Powerless and Clueless" atau "Tak Berdaya dan Tak Memiliki Arah".

Harian ini menyindir keputusan pemerintah, yang mengatakan krisis itu sedang ditangani, karena mempromosikan Menteri Energi Sushilkumar Shinde menjadi Menteri Dalam Negeri.

Dilanjutkan bahwa di tengah krisis besar kelistrikan justru terjadi pergantian menteri. Harian itu mengatakan tindakan itu sama saja dengan menggantikan kapten Titanic yang sedang sempoyongan dan menuju dasar laut setelah menabrak gunung es.

"Jika kita tidak menuntut ketegasan politik untuk melakukan perubahan sistemik, hal serupa pasti akan terjadi lagi," demikian harian Times of India.

Harian Dainik Jagran yang berbahasa Hindi juga menuliskan hal yang kurang lebih serupa. "Rakyat tenggelam di balik Kegelapan Pemerintahan," demikian tulisan di halaman depan harian ini.

Ditambahkan, Delhi sungguh tidak berdaya, merujuk pada pemerintahan India, walau menambahkan bahwa hal serupa itu juga terjadi di negara lain.

"Namun jika di tempat lain pemadaman terjadi karena bencana alam, kejadian pemakaman listrik di India adalah hasil dari perencanaan buruk dan ketidakdisiplinan dalam waktu yang lama," lanjut harian itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau