Suriah-Rohingya Jadi Bahasan Utama OIC

Kompas.com - 02/08/2012, 16:45 WIB

JEDDAH, KOMPAS.com - Kondisi di Suriah dan nasib warga Muslim Rohingya di Myanmar akan menjadi topik utama agenda pertemuan tingkat tinggi luar biasa negara-negara Islam yang akan dilangsungkan di Mekkah, Arab Saudi, pada 14-15 Agustus mendatang.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) Prof Ekmeleddin Ihsanoglu menyambut baik seruan oleh Khadamul Haramain Raja Abdullah dari Arab Saudi untuk menyelenggarakan pertemuan itu di tengah situasi menyedihkan di sejumlah negara Muslim dan merancang cara menyelesaikannya.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut diserukan untuk meningkatkan upaya guna mengatasi perpecahan dan pertikaian di kalangan umat Muslim, kata Ihsanoglu dalam taklimat di Markas OIC di Jeddah, Rabu (1/8/2012). Pertemuan itu bertujuan memperkokoh solidaritas dan persatuan di kalangan umat Muslim, katanya.

Raja Abdullah telah mengundang para kepala negara dan pemerintahan untuk menghadiri pertemuan tersebut, demikian laporan IINA.

Ihsanoglu juga mengungkapkan rencana OIC untuk mengumpulkan bantuan sebanyak 500 juta dolar AS dari negara anggota guna membantu rakyat Suriah yang telah kehilangan tempat tinggal mereka akibat konflik saat ini.

Krisis kemanusiaan di Suriah telah meningkat sampai ke tahap yang memerlukan bantuan sedikitnya 500 juta dollar AS guna memenuhi kebutuhan rakyat Suriah, kata Ihsanoglu di dalam seruannya kepada para donor.

Suriah dilanda aksi perlawanan terhadap pemerintah Presiden Bashar al-Assad, yang upayanya untuk memadamkan perlawanan dengan menggunakan kekuatan telah membuat puluhan ribu warga sipil meninggalkan rumah mereka. Banyak di antara mereka kini berada di negara tetangga Suriah.

"Kami menyerukan peningkatan upaya kemanusiaan dan kerja sama di antara organisasi regional dan internasional guna mengirim bantuan kemanusiaan mendesak kepada rakyat Suriah di Suriah dan di negara tetangga," katanya.

Myanmar

Pemimpin OIC tersebut juga mendesak masyarakat Muslim di seluruh dunia untuk memberi bantuan politik, kemanusiaan dan keuangan buat korban kekerasan di Myanmar barat-laut.

"Ini adalah krisis besar kemanusiaan tapi sayangnya kebanyakan masyarakat Muslim dan internasional tidak menyadari betapa besarnya krisis itu. Pada bulan suci ini, saya menyeru semua orang Muslim untuk memberi bantuan guna meringankan kondisi ini," katanya.

Ketegangan lama antara suku Rakhine, yang beragama Buddha, dan orang Muslim Rohingya mendidih lagi di negara bagian Rakhine di Myanmar pada Juli. Akibatnya, terjadi serangkaian pembakaran dan serangan hingga menewaskan 77 orang dan lebih dari 100 lagi cedera, kata pemerintah.

Kerusuhan itu telah berdampak pada orang Rohingya dan etnik Rakhine, tapi kelompok hak asasi manusia telah menuduh polisi dan tentara menggunakan kekuatan secara tidak seimbang dan menangkapi orang Muslim Rohingya setelah kerusuhan tersebut.

Hampir 5.000 rumah telah dibakar dan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Myanmar menganggap sebanyak 800.000 orang Rohingya sebagai pendatang gelap, kendati para pegiat Rohingya mengatakan nenek moyang mereka telah menetap di daerah itu selama berabad-abad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau