Sekelompok Nenek Selundupkan Gula

Kompas.com - 02/08/2012, 23:09 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Petugas Kantor Bea Cukai Tipe A3 Banda Aceh kembali berhasil menggagalkan aksi penyelundupan barang ilegal. Kali ini petugas menggagalkan upaya penyelundupan gula pasir impor sebanyak 7,5 ton dari Pulau Sabang di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Mengejutkan karena gula impor asal Thailand itu diselundupkan melalui jasa angkut nenek-nenek yang rata-rata berusia hampir mencapai 65 tahun. Setiap nenek membawa satu hingga dua karung gula seberat 50 kilogram/karung. Mereka menggunakan Kapal Ferry penyeberangan KMP BRR yang menyeberang dari Sabang menuju Banda Aceh.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe A3 Banda Aceh, Beni Novri, mengatakan para ibu tua atau yang dikenal dengan sebutan nyak-nyak ini membawa sebanyak 150 karung gula.

"Dari keterngan para ibu-ibu tersebut, mereka masukkan gula ke dalam kapal pada saat malam hari ketika petugas tidak terlihat," jelasnya.

Sempat terjadi aksi saling dorong dan keributan kala petugas menggagalkan aksi para perempuan yang sebagian besar mengaku janda itu.

Cara mereka memasok gula ke Banda Aceh tergolong rapi. Gula-gula tersebut mereka bungkus dengan menggunakan kain sarung, dan kemudian menggendongnya, seolah menggendong barang bawaan.

Salah seorang nenek, mengaku membawa gula dari Sabang ke Banda Aceh untuk kebutuhan puasa dan jelang hari raya Idul Fitri.

"Kami tidak punya penghasilan, tapi kami punya kebutuhan, apalagi menjelang hari raya, termasuk untuk membayar zakat," ucap seorang nenek dengan berbahasa aceh yang kental.

Menurut para perempuan pengangkut gula itu, mereka membeli gula di Sabang seharga Rp 480.000 hingga Rp 510.000/karung kemudian dijual di Banda Aceh dengan harga Rp 560.000/karung.

Kapal Tenggelam

Sementara itu, beberapa jam selang penangkapan para ibu penyelundup gula, tim Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan tim Basarnas Kota Banda Aceh menginfokan bahwa sebuah kapal kayu dikabarkan tenggelam di perairan Lampanah Aceh Besar, yang berjarak 16 mil dari perairan Sabang.

Ketua RAPI Banda Aceh TAF Haikal mengatakan, sementara diduga kapal kayu tersebut mengangkut gula ilegal dari Penang menuju Kota Sabang.

"Dari informasi yang kami terima melalui radio komunikasi kapal tersebut diduga sudah mengalami kebocoran sejak berada di perairan Lampanah Aceh Besar, dan kapal ini mengangkut gula yang dibawa dari Penang, Malaysia," kata Haikal, Kamis (2/8/2012).

Dilaporkan kapal kayu tersebut berisikan 9 ABK. Diduga kapal kayu tersebut tenggelam akibat ombak tinggi dan angin kencang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau